Memberi dan Menginspirasi

Kamis, 07 Maret 2019

Unicorn antara Peluang dan Tantangan



Siapa yang pernah belajar P4 di sekolah?  atau pelajaran Pancasila, PPKN, PMP. Berarti kita seumuran, diera tersebut kita diharuskan menghapal butir-butir pancasila, menghapal UUD 1945. P4 diajarkan dari mulai bangku SD hingga kuliah, pelajarannya memang diulang itu-itu saja. Seputar Pancasila. Kita diperkenalkan dengan lagu-lagu kebangsaan. Diajarkan cinta tanah air. Pada akhirnya generasi saat itu memang rasa kebanggaan terhadap negeri sendiri begitu tinggi, rasa memiliki Indonesia Raya begitu terasa. Lagu Garuda Pancasila dihapal oleh anak TK sekalipun. Karena setiap hari diputar lagu itu.
Kemana pelajaran P4, PPKN, PMP saat ini? Butir-butir pancasila semuanya bernilai positif dan tidak ada yang bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun. Kenapa kurikulum itu dihapuskan? Yang pada akhirnya anak-anak sekarang kurang rasa kebangsaannya, mereka hidup individualistic, kurang rasa empati terhadap sesama, tidak ada rasa memiliki.
Itu hanya sekedar uneg-uneg, mudah-mudahan ada yang peduli terhadap pendidikan kedepannya. Sebenarnya yang saya mau tulis di sini masalah Unicorn yang sempat Menjadi perdebatan para Capres. 

Banyak orang yang kurang peduli dampak dari unicorn, mereka menganggap hal yang biasa untuk investasi asing di Indonesia. Dan memang produk dari luar juga sudah membanjiri pasar-pasar di dalam negeri. Karena para milenial merasa bangga dengan produk-produk impor yang dianggap murah dan bagus. Padahal jika dibiarkan akan mematikan perekonomian UKM.
Tulisan di atas jadi nyambung, karena kurang rasa memiliki, karena kurang rasa kebanggaan terhadap negeri sendiri, karena kurang rasa empati terhadap sesama, akhirnya masa bodo dengan keadaan para UKM yang menjerit, mereka buka lapak di Mall sepi karena pembeli sekarang lebih suka belanja online, mereka ikutin apa maunya pembeli dengan berjualan online juga awalnya pembeli banyak jualan di Marketplace tapi lama-kelamaan jadi susah, jadi seret. Mereka pun mengeluarkan uang untuk iklan, untuk pelatihan agar bisa survive di bisnis per olshopan. Tapi tidak begitu berpengaruh. Terhadap omset yang dihasilkan.
Jadi marketplace itu memiliki data transaksi seller, dari sana mereka bisa mengetahui produk yang laris dan membuat produk sejenis. Lalu market kita yang mencari barang di marketplace akan diarahkan ke toko-toko mereka. Tak jarang dikirim langsung dari luar tanpa ongkir.
Lho ko bisa ?  mereka punya program OBOR (One Belt One Road) yaitu jalur sutera abad 21. Mereka bekerja cantik dan ciamik. Ngeri-ngeri sedap pokoknya. Saat ini 90 % barang yang dijual di marketplace adalah barang impor.  
Maka dari itu jika Anda menjual brand lokal jangan seluruhnya dipercayakan pada marketplace, bangun brand sendiri. Itu saran saya.
Awalnya saya juga tidak paham, dan membeli ini, itu di marketplace. Tapi setelah  saya membaca dan mengalami sendiri, mencari barang di L….za…., ternyata barang dikiirm dari kota Taobao China dengan tanpa ongkir. Saya scrool barang lainnya, hampir rata-rata dari luar. Baru di situ saya ngeh, ini mungkin yang menyebabkan toko online saya di marketplace sepi pembeli. Saya juga kerja jadi saya tidak begitu mengurus toko online karena masih ada gaji setiap bulannya. Tapi bagaimana yang mengandalkan dari dagangan saja. Ayo kita mulai melek digital, ayo kita mulai perang. Caranya bagaimana, ya kita cari ilmunya, jangan menyerah dengan keadaan. Yuk kita bangkit.


0

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!