Memberi dan Menginspirasi

Minggu, 20 Desember 2015

Jualan di Tokopedia


Siapa sih yang nggak tahu Tokopedia. Tokopedia merupakan perusahaan Internet yang memungkinkan setiap pelaku bisnis di Indonesia untuk mengembangkan dan mengelola bisnis online mereka secara mudah dan gratis, sekaligus memungkinkan pengalaman berbelanja online yang lebih aman dan nyaman. Tokopedia juga merupakan perusahaan internet pertama di Asia yang mendapat kepercayaan dari investor Sequoia capital, yang merupakan investor dibalik kesuksesan Aple dan Google.
Sebenarnya saya belum lama berjualan di Tokopedia ini. Bergabung mulai November 2014. Awalnya ragu juga bergabung di Tokopedia, karena harus bersaing dengan pemodal besar, grosiran dan para pembisnis kelas atas. Melihat teman yang sukses berjualan di Tokopedia akhirnya saya putuskan untuk membuka akun secara gratis. Toh apa salahnya mencoba, kan tidak bayar. 
Dari coba-coba ini alhamdulillah saya bisa mendulang rupiah demi rupiah. Alhamdulillah banget ibu rumah tangga seperti saya bisa menghasilkan rupiah dari rumah. Apalagi sekarang banyak fitur baru yang memudahkan bagi pelaku bisnis yang super sibuk, semacam laporan setiap bulan / trafik penjualan. 

Dengan adanya Tokopedia saya sebagai pelaku bisnis rumahan sangat terbantu. Konsumen juga lebih percaya untuk belanja di Tokopedia karena ada garansi uang kembali jika barang tidak dikirim oleh penjual. Bagi yang mau menjadi Reseler / dropsip masih terbuka luas. karena kami menyediakan barang dengan harga grosir Tanah Abang. Jadi para reseler / dropsip masih memungkinkan untuk menjualnya dengan harga dan margin normal. Secara di Tokopedia para pembeli mencari barang-barang murah dengan kualitas oke. 


0

Sabtu, 19 Desember 2015

Kekuatan Doa Ibu


Terkadang kita bisa dengan mudah menulis memoar atau kisah sukses seseorang. Namun kita sulit sekali menulis tentang ibu kita sendiri yang begitu dekat dengan kita, dan beliau sudah sukses mendidik kita hingga saat ini. Dan terkadang kita lupa kalau kesuksesan yang kita peroleh baik berupa jabatan, kedudukan dan harta yang kita miliki bukan hasil kita sendiri melainkan ada doa dan pengorbanan yang luar biasa dari ibu kita. Saya akui saya juga paling sulit untuk menulis tentang ibu, karena saya tidak punya kata-kata, baru satu baris saja, air mata sudah tak terbendung. Seperti saat ini menulis sambil menangis, tapi tulisan ini harus selesai untuk ikutan lomba hari Ibu.
Amih, begitulah kami seluruh memanggilnya. Wanita yang qonaah. Lahir dari keluarga biasa saja dan tidak memiliki pendidikan tinggi, beliau hanya lulusan SD, namun pendidikan yang beliau berikan pada kami anak-anaknya melebihi pendidikan doktor sekalipun. Ya ibu adalah madrasah utama bagi saya dan adik-adik semua.
Saya menyebutnya wanita yang qonaah, karena sejak ia menikah hidup dalam keprihatinan. Bapak tidak pernah memiliki pekerjaan tetap. Sehingga  Amih harus berjuang keras untuk menghidupi saya dan kelima adik saya. Sebagai anak tertua saya tahu betul perjuangannya, pernah jualan masakan keliling kampung dengan berjalan kaki, jadi pembantu di rumah orang lain, membantu orang hajatan, menerima pesanan kue, dan lain-lain. Saya masih ingat masa-masa sulit itu, ketika satu telur dadar harus dibagi empat. Kehidupan begitu sulit saat itu, Amih hanya diberi uang 10 ribu untuk makan kami sekeluarga, jadi setiap hari Amih harus berhutang ke warung.
Walau pun kehidupan begitu sulit, bukan berarti tidak ada kebahagiaan di rumah kami, karena kebahagiaan tidak bisa diukur dari banyaknya harta, kami sekeluarga baik-baik saja dengan himpitan ekonomi, semua anak-anak Amih berprestasi di sekolah, tidak ada yang nakal dan pergaulan bebas, apalagi narkoba, tidak ada yang membangkang ke orang tua. Semua anak amih tidak pernah menyesal memiliki orang tua miskin dan tidak berpendidikan. Kami semua semangat belajar, untuk hidup yang lebih baik. Alhamdulillah kedua orang tua saya sangat mendukung pendidikan, mereka menyekolahkan anak-anaknya, bahkan saya dan adik-adik saya juga pesantren dan sekolah. Masih ada senyum dan canda tawa dari balik rumah kecil kami yang begitu sederhana.
Saya memang tidak selalu sejalan dengan pemikiran Amih, ada perbedaan karakter diantara kami, sehingga memang sering terjadi pertengkaran kecil. Namun bukan berarti saya tidak sayang, bukan berarti saya tidak hormat, semua orang pasti mengalami gesekan dengan orang tua, terutama saat remaja. Tapi Walau pun begitu, saya takut sekali jika menyakiti perasaaannya. Terkadang perbuatan Amih atau keputusan Amih dianggap tidak adil, menyakiti sehingga saya ingin berontak. Tapi seiring dengan waktu, usia saya juga bukan remaja lagi, saya juga sudah menjadi seorang ibu, sedikit demi sedikit gesekan itu bisa berkurang. Saya lebih banyak mengalah dan diam, saya ingin mengurangi dosa, saya juga banyak bertobat agar dosa saya sering membantah pada orang tua dan berakibat pada kehidupan saya sekarang. Dalam hal perekonomian saya jauh tertinggal dari teman-teman saya, dari sepupu saya, dari adik saya.
Saya tahu Doa orang tua adalah obat terbaik di dunia, saya mohon doa sama Amih, dan sedikit-demi sedikit saya kurangi pertengkaran dengan amih, saya perbanyak sedekah. Saya tinggal satu rumah sama Amih dan bapa yang sudah tidak bekerja, Alhamdulillah rezeki saya lancar, tulisan saya berkali-kali dimuat dimedia, buku-buku saya juga satu persatu terbit. Setiap bulannya selalu ada aja rezeki dari nulis, usaha suami juga ada peningkatan. Dan berkat doa orang tua juga tahun 2015 saya lolos tes CPNS.        
Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa menginspirasi kita semua.
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba nya Cikgu Ida Fauziah.
0

Sabtu, 12 Desember 2015

Bisa kah konsesi untuk disabilitas diterapkan?

Tulisan ini saya buat untuk memperingati hari disabilitas internasional 3 Desember 2015, saya kirim ke media cetak. Tapi sampai saat ini belum ada kabar, saya posting di sini aja, mudah-mudahan bermanfaat.
Selamat membaca...

Dalam Pikiran Rakyat Sabtu 7 November  2015 ada sebuah Opini yang berjudul Pilkada Prokaum Disabilitas. Judul yang begitu menarik sekali bagi saya, karena isu disabilitas saat ini sedang hangat terkait dengan Rancangan Undang-Undang Penyandang Disabilitas yang sudah disahkan sebagai RUU Prolegnas (Program Legislasi Nasional) prioritas 2015.
Para difabel berharap RUU ini bisa disahkan menjadi UU bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember sebagai kado utama. Tapi harapan ini sepertinya tidak akan terwujud mengingat perjalanan Draft RUU Penyandang Disabilitas begitu lambat dan masih ada beberapa tahapan yang harus dilewati.  Berbagai upaya yang dilakukan komunitas difabel untuk mendorong agar DPR segera melanjutkan ke tahap pembahasan dengan pemerintah.
Kita tahu kalau RUU ini sudah lama menjadi wacana di negeri ini. Untuk mewujudkannya masih terbentur dengan beberapa hambatan, salah satunya yaitu mengenai pendataan disabilitas yang menjadi persoalan mendasar untuk penanganan masalah sosial. Untuk saat ini data disabilitas memang masih simpang siur, mudah-mudahan ke depannya ada pendataan bagi disbilitas, karena pendataan mutlak diperlukan untuk membuat berbagai kebijakan bagi penyandang disabilitas, membuat anggaran dan penyediaan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Tanpa data yang akurat sulit untuk mengidentifikasi strategi yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas.
Pendataan juga penting untuk membuat kartu penyandang disabilitas yang nantinya bisa digunakan untuk mengakses berbagai fasilitas.
Tinjauan beberapa Negara
Seperti kita ketahui, penyandang disabilitas erat kaitannya dengan kemiskinan, karena penyandang disabilitas sulit mendapat pekerjaan dan sulit untuk mendapatkan kursus atau pelatihan yang bisa meningkatkan taraf hidupnya.  Di Amerika sebanyak 29 %  dari total penyandang disabilitas masuk dalam kategori miskin, sementara hanya 13 % warga non disabilitas yang masuk kategori miskin. Begitu juga di Inggris yang tingkat pendidikannya sudah lebih maju khususnya untuk pelayanan disabilitas, masih banyak penyandang disabilitas yang tidak memiliki ijazah formal. Sulitnya mencari pekerjaan tidak hanya terbentur karena ijazah, melainkan diskriminasi dari orang-orang  sekitarnya.
Yang menjadi factor kemiskinan penyandang disabilitas juga karena biaya hidup yang harus dikeluarkan oleh penyandang disabilitas lebih besar dari masyarakat non disabilitas. Salah satu contohnya pengguna kursi roda, yang tidka bisa menggunakan kendaraan umum saat berpergian, minimal ia harus menggunakan taxi.  Atau pengguna protese (kaki palsu) yang harus berkala mengganti protesenya, dan harga protese lumayan cukup mahal. 
Ada juga penyandang disabilitas yang membutuhkan pendamping khusus seperti yang cacat mental dan cerebral palsy,  yang membutuhkan obat-obatan seumur hidupnya, modifikasi rumah dan alat bantu yang biayanya tidak sedikit. Oleh karena itu penyandang disabilitas memerlukan kompensasi dari pemerintah.
Di negara-negara Eropa dan sebagian Asia sudah diterapkan konsesi yaitu pemberian subsidi dan potongan harga bagi disabilitas dan pemberian tunjangan hidup.
Menuntut tunjangan hidup seperti di negara lain mungkin sulit, kecuali untuk penyandang disabilitas ganda yang betul-betul membutuhkan. Tapi untuk mendapatkan potongan harga (konsesi) sangat mungkin dilakukan pemerintah, contohnya untuk biaya pendidikan, biaya listrik, air, transportasi umum dan lain-lain. Semua itu akan mudah dengan menunjukkan kartu disabilitas.
Seperti contohnya di negara tetangga yaitu Malasyia, pemberian konsesi atau benefit kepada warga negara yang mengalami disabilitas berupa potongan 50 % untuk tiket kereta api untuk semua kelas, begitu juga bus dalam dan luar kota. Bahkan Malasyian Air Lines juga memberikan potongan 50 % untuk penyandang disabilitas.
Kemudahan lain yang diberikan pemerintah Malasyia yaitu berupa potongan pajak bagi penyandang disabilitas, orang tua dan pasangan disabilitas, bebas biaya paspor, pembebasan biaya kesehatan, dan bantuan sewa rumah. Untuk membeli mobil nasional, penyandang disabilitas diberi potongan sebesar 10 %, untuk fasilitas komunikasi  PT. Telkom juga memberikan berbagai kemudahan.
Di negara Filipina pemerintah memberikan potongan sebesar 20 % untuk semua jenis kendaraan umum baik darat, laut mau pun udara, berbagai tunjangan di bidng pendidikan,  20 % untuk semua apotek, dan minimal 20 % untuk hotel, tempat wisata, arena hiburan dan lain-lain dan 5 % potongan sembako.
Negara Matahari Terbit memberikan konsesi terhadap penyandang disabilitas  berupa transportasi kota gratis (bus dan kereta bawah tanah), tunjangan biaya hidup bulanan, dan pemerintah Jepang bertanggung jawab terhadap penyediaan lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas melalui undang-undang promosi pekerjaan bagi penyandang disabilitas.
Pemerintah Korea Selatan memberikan konsesi terhadap disabilitas berupa potongan biaya listrik, biaya parkir, biaya pendaftaran mobil, angkutan umum gratis, perawatan, pendidikan, bekerja sama dengan pihak swasta untuk memberikan diskon khusus bagi penyandang disabilitas untuk layanan internet, telepon selular dan tiket pesawat.
Bila melihat kondisi penyandang disabilitas di Indonesia, dan contoh dari negara-negara di atas, selayaknya Indonesia juga memberi konsesi bagi penyandang disabilitas. Dan konsesi ini bisa terwujud bila ada pendataan yang akurat mengenai kondisi penyandang disabilitas. Segala bentuk bantuan dan konsesi akan tepat sasaran jika pemerintah mengeluarkan secara resmi kartu penyandang disabilitas.
Sebagian besar negara-negara maju dan berkembang sudah mengeluarkan kartu penyandang disabilitas sejak 10 tahun yang lalu. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kartu tanda penduduk. Hanya untuk mendapatkannya harus ada sertifikasi/surat keterangan dari dokter mengenai kondisi kedisabilitasannya. Penyandang disabilitas juga harus mendaftarkan diri ke pemerintah terkait dan disetiap negara yang mengeluarkan kartu penyandang disabilitas disediakan fasilitas daftar secara online.
Hambatan

Salah satu hambatannya adalah data yang ada mengenai disabilitas saat ini belum kongkrit. Upaya yang akan dilakukan diantaranya yaitu pendataan oleh BPS, mudah-mudahan pemerintah serius ingin mensejahterakan kaum disabilitas sebagai kaum rentan yang termarginalkan.
0

Rabu, 09 Desember 2015

Tips Menembus Media Masa


Saya memulai karir menulis semenjak duduk di bangku kuliah, terinspirasi dari seorang teman yang magang sebagai wartawan dan sering mengirimkan tulisan ke berbagai media. Karena keinginan yang kuat untuk bisa menembus media dan usaha yang maksimal. Jangan salah, waktu zaman saya kuliah dunia internet tidak seperti sekarang. Saya harus ke warnet dan rental komputer untuk ngetik. dan pengiriman naskah pun melalui pos. Target pertama saya yaitu koran Pikiran Rakyat, karena itulah koran yang mudah saya peroleh, saya bisa baca di perpustakaan kampus. Saya juga beli berbagai buku tentang dunia tulis menulis. Pokoknya saya harus kirim artikel minimal satu artikel setiap minggu. Kabar gembira datang tulisan dan foto saya dimuat di rubrik kampus, ternyata kalau kita punya tekad yang kuat, dibarengi dengan usaha dan doa tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Percaya diri pun mulai muncul saat teman-teman mengucapkan selamat, mereka melihat tulisan saya dimuat di media nasional. Dari sana semangat terus mengalir, walau pun terkadang semangat itu turun.
Jujur, dulu saya menulis karena cari rupiah. Uang saat itu sangat berarti bagi saya, dan saya memang tipe orang yang ingin menjajal segala sesuatu. tentunya yang menghasilkan uang. Mungkin kelihatan matre ya, tapi memang itulah saya. Saya bukan orang yang menyerah sebelum bertanding.
Beda sekali kalau melihat keponakan, atau teman padahal sudah jelas lagi susah dalam hal keuangan, saya kasih ide untuk belajar menulis, biar dapat uang tambahan, atau saya sodori bisnis dari rumah, mereka banyak sekali alasannya. Tidak bakatlah, susahlah, dan sederet alasan lain. Padahal  semua ilmudidunia ini bisa dipelajari, setelah itu kita bisa meyaring dan menetapkan skala prioritas, mana yang akan kita tekuni.  saya suka geregetan sama orang yang kumeok memeh dipacok.
Kalau menurut saya untuk menembus media itu harus disesuaikan dengan minat kita, mau menulis opini, cerpen, cernak atau  tulisan perjalanan. dan yang tak kalah penting adalah mengenal media tersebut. Beli lah majalah atau koran yang akan kita kirimi tulisannya minimal 10, lalu kita pelajari mulai dari jenis penulisan, gaya bahasa, hingga jenis huruf yang biasanya ditentukan oleh media masa.
Berikut ini adalah tulisan saya yang pernah menghiasi media

                    

1.       Tabloid Prioritas Judul green Canyon di tanah Pasundan  ( Perjalanan )edisi 7 Januari 2013
2.       Tabloid Prioritas Judul : Warisan budaya leluhur Bulukumba  (Perjalanan)Edisi 17-23 Des 2012
3.       Majalah Sunda Mangle  Carpon Judul  Anaking Edisi 20-26 Des 2012
4.       Forum Guru  Pikiran rakyat Judul Membudayakan Pendidikan inklusif edisi  6 Sept 2012
5.       Forum Guru Pikiran Rakyat Judul Menyoal Penambahan jam pelajaran edisi  27 November 2012
6.       Yakinlah,Undangan Allah segera tiba Pikiran Rakyat
7.       Planet Baru Layak Huni ditemukan Pikiran Rakyat Edisi 22 november 2012
8.       Alfred Bernhar nobel, Penemu Dinamit Pikiran Rakyat
9.       Benarkah Jakarta akan tenggelam Harian Analisa 21 Januari 2013
10.   Paralayang DiBukit gantole ( Perjalanan) Pikiran Rakyat 2 Februari  2013
11.   Kisah Pinisi Dari Bulukumba Pikiran Rakyat 2 Juni 2013
12.   Pulau Tidung, eksotisme di pulau terpencil Pikiran Rakyat.
13.   Nu Ngulutrak tengah peuting (carpon, Tribun Jabar)
14.   Gerobak Sampah (cernak, Majalah Girls)

                

Itu hanya sebagian judul yang saya ingat, karena setelah itu saya sempat menulis artikel untuk konten web, menulis buku. Alhamdulillah rezeki dari nulis belum terputus walau pun sekarang sudah bekerja sebagai abdi negara. Ya tentunya waktu full time sebagai penulis dan sekarang memang berbeda, sekarang waktu nulis hanya ketika hari libur seperti sekarang..
0