Memberi dan Menginspirasi

Minggu, 10 Maret 2019

Kisah Cinta seorang Gadis tanpa Tangan – Putri Herlina



Banyak kisah penyandang disabilitas sukses berawal dari dukungan keluarga, terutama seorang ibu. Karena dengan kehangatan keluarga terbukti bisa membangun rasa percaya diri pada anak. Bagaimana dengan penyandang disabilitas  yang dibuang oleh ibu kandungnya sendiri ?
Dialah Putri Herlina bayi tanpa lengan, yang ditemukan di sebuah Rumah Sakit. Beruntung ada seseorang yang mau mengurusnya. Wanita yang berhati mulia itu adalah Susiani Sunaryo, seorang dari Yayasan sayap Ibu Yogyakarta.
Masa kecil Putri seperti anak lainnya, ia aktif dan lincah. Tapi waktu mencari sekolah TK, Ibu Susi dan suaminya sempat kewalahan, 10 TK yang didatangi menolaknya. Tapi akhirnya ada TK yang mau menerima Putri, yaitu TK Aisyiah. 
Seperti gadis lainnya, Putri juga terkadang galau, stres dengan keadaan dirinya, terutama ketika ia harus tinggal jauh dari orang tua asuhnya. Sewaktu ia masih SMP, harus kos di Solo. Segala pekerjaan seperti mencuci dan memasak ia lakukan sendiri. Ia akan merasa tenang lagi jika sudah curhat dengan ibu angkatnya yang sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.
Dengan kondisinya Putri begitu semangat, ia sekolah hingga SMA, di sekolahnya ia tak mau dibedakan dengan murid normal. Ia tak memakai meja khusus walau pun harus menulis dengan kaki. “Aku  bisa menulis, ngetik, main Hp dan lain-lain pakai kaki. Allah memberi kekurangan pasti memberi juga kelebihan.” Ujar Putri dengan senyum mengembang.
Kini Putri mengabdikan diri untuk mengurus bayi-bayi tanpa orang tua, di panti tempat ia dibesarkan.  Ada sekitar 30 bayi, kondisi bayi ada yang normal ada juga yang cacat. Mereka yang cacat kebanyakan karena gagal aborsi. Orang tua mereka tak menginginkan anaknya lahir, segala obat diminumnya. Tapi Allah berkehendak lain, anak yang tak berdosa itu masih hidup walau pun harus cacat seumur hidupnya.
Selain membantu administrasi yayasan, Putri juga terampil mengganti popok, menyuapi makan, mengganti pakaian. Ia seperti seorang ibu yang diturunkan untuk merawat mereka. Dengan penuh kasih sayang  Putri merawatnya. 
Salah satu kegalauan bagi penyandang disabilitas adalah masalah jodoh, ya jodoh karena jodoh masih diyakini sebagai misteri Illahi. Sebagai manusia kita tak mengetahui dimana dan kapan jodoh akan menghampiri.
Dalam sebuah obrolan ringan Putri dengan temannya yang saya ambil dari sebuah blog, Putri pernah mengungkapkan kalau ia sudah bosan hidup di Panti, ia ingin hidup mandiri dan memiliki suami yang normal.
“ Apa hidupku sampai tua ada di panti ini ? ada di meja ini ? apakah aku tak tahu diri jika mengharapkan lelaki sempurna yang menjadi pendampingku ?” ucap Putri dengan pandangan kosong.
Teman yang setia mendengarkan curhatan Putri biasanya hanya menyarankan Putri untuk minta dan berdoa sama sang pemilik jodoh. Dalam blog ini juga Putri pernah dekat dengan laki-laki, namun mereka tak serius.  Dia pernah pacaran dengan anak SMA, yang manja sekali. “ Dia tahu kalau aku tak punya tangan, tapi kalau ada pakaian kotor minta dicuciin.” Tuturnya.
Memang Putri begitu mandiri, segala sesuatu ia lakukan dengan kaki, mencuci pakaian, pakai baju, kerudung, melipat pakaian ia lakukan dengan begitu cepat. Kisahnya begitu menginspirasi. Hingga suatu hari ada yang membaca kisahnya dalam sebuah blog.
Lelaki itu bernama Reza, ia beberapa kali datang ke panti, Putri tak menyangka laki-laki ini kelak akan menjadi suaminya. Karena setiap hari memang banyak tamu berkunjung ke panti ini. Reza  mau menerima kekurangan Putri, walau pun ia dari keluarga terhormat, ayahnya merupakan petinggi Bank Indonesia.
Yang sungguh luar biasa, keluarga Reza pun mau menerima kondisi Putri. Saat ijab Kabul selesai diikrarkan, suasana haru begitu terasa menyelimuti seluruh ruangan. Tak ada yang tak meneteskan air mata, termasuk ibunda Reza. Ia mendekap putranya lama sekali ketika acara sungkem.
Engkaulah laki-laki pilihan yang menjadi imam bagi wanita luar biasa ini. Engkaulah yang Allah percaya duduk, berdiri, berjalan disampingnya selamanya. Jadikan ini sebagai ibadahmu, pahala tak berkesudahan hingga akhir hayatmu.” Begitulah mungkin yang dikatakan ibunda Reza.
Ditulis ulang dari berbagai sumber   
0

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!