Memberi dan Menginspirasi

Minggu, 11 November 2018

WISATA SUSUR SUNGAI MARTAPURA, WISATA HEMAT DAN MENGASYIKKAN

 
Kesempatan tidak datang dua kali, itulah yang memberanikan saya untuk menyusuri sungai Martapura ketika matahari sudah mulai membenamkan dirinya di ufuk Barat. Yap kesempatan yang jarang dimiliki orang untuk jalan-jalan ke Banjarmasin. Saat ada kesempatan untuk melihat kehidupan asli masyarakat Banjar yang sangat erat dengan sungai.  
Selain wisata pasar terapung, Banjarmasin terkenal dengan wisata susur sungai.  Susur sungai ini menggunakan  kelotok. Kelotok merupakan sejenis  perahu dengan mesin yang berkapasitas hingga 25 orang.  
Untuk menaiki kelotok saya dibantu oleh awak kapal, yap sebelum menuju kelotok  kita harus menuruni tangga dan bebatuan yang terjal (lebay) dengan kondisi saya yang menggunakan kruk memang agak sulit, tapi bukan saya kalau tidak nekat dan ingin mencoba.
Agak lama juga kami menunggu kelotoknya jalan. Berhubung saat itu  bukan musim liburan jadi  lumayan lama menunggu penumpang hingga penuh. Alternative jika tak mau menunggu lama, kita harus sewa kelotoknya dengan harga 300 rb. Setelah nego harga sama awak kapal, kami memutuskan untuk menunggu saja. 

 Awalnya males naik kelotok, sungai martapura bukan sungai yang jernih dengan pemandangan yang indah, pemandangan pinggir sungai martapura hanya rumah-rumah panggung pinggir sungai yang terlihat kumuh. Apalagi saya takut naik perahu karena tidak bisa renang,  ditambah dengan cerita awak kapal yang mengatakan kalau di sungai ini masih ada buaya yang berkeliaran. Memang sih kalau dipikir ini kan sungai, tidak menutup kemungkinan ada buaya. tapi sudah terlanjur naik kelotok dan duduk di buritan, jadi susah jika harus merangkak lagi keluar. Bismillah saja mudah-mudahan buaya tidak menampakan diri saat kelotok kami lewat.
Di atas kelotok rombongan kami berlima, ada Pak Haryanto, Mbak Lia, Mas Aaf, dan satu orang guide yang  saya lupa namanya, he…he…, dan ada lagi sepasang muda-mudi yang sedang pacaran duduk berdua di bagian atas.
 Rute kelotok ini menyusuri sungai sepanjang pasar Sudimampir sampai pasar lama, memerlukan waktu 20-30 menit. Tapi sebenarnya rute bisa request sama awak kapalnya. Sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan lampu yang begitu indah. Melihat rumah-rumah penduduk pinggir sungai, seperti yang diceritakan dalam novel Tere Liye yang berjudul sepucuk angpau merah.
Di sebelah kanan ada patung bekantan, mascot kota Banjar. Kita bisa mampir dulu dan berfoto di sana. Tapi saat itu kami memang darurat, waktu sudah mau magrib. Jadi kami memutuskan untuk tidak mampir.
Dengan uang 5 ribu rupiah kita sudah menikmati wisata susur sungai. Dan apa yang kita dapatkan pasti lebih dari senilai uang yang kita keluarkan.
Kami bergegas turun dari kelotok, karena hari mulai gelap, terdengar suara komat dimasjid sudah berkumandang. Sisi lain masyarakat Banjar yang religious, kami kesulitan mencari masjid, bukan tidka ada masjid. Tapi masjid saat sholat itu penuh hingga ke halaman. Dan parkirannya olala… memenuhi separuh jalan. Pemandangan yang wow luar biasa. Karena pemandangan seperti itu kalau ditempat saya di Jakarta, bekasi, bahkan Bandung itu hanya ketika hari raya atau sholat jumat. Dan kata supir yang mengantar kami, memang masyarakat di sini sangat religious. Akhirnya kami memutar arah menuju masjid yang agak jauh, tibalah saya di masjid yang agak lowong, bukan berarti sepi tapi karena masjid ini sudah selesai sholatnya. Sebagian sudah keluar dan sebagian lagi masih duduk bersila menunggu waktu isya.
Itulah sepotong cerita saya ketika pergi ke Banjarmasin untuk kedua kalinya, baca juga kunjungan saya yang pertama di sini.
1