Memberi dan Menginspirasi

Senin, 28 Januari 2013

Benarkah Jakarta Akan Tenggelam ?


Oleh :Yati Nurhayati,SH
Diperkirakan Jakarta akan tenggelam pada taun 2050, begitulah kabar yang simpang-siur terdengar. Benarkah kabar tersebut ? sebenarnya kabar tersbut sudah lama menjadi perbincangan luas dan keprihatinan bersama di kalangan pemerhati lingkungan. Namun demikian, perbincangan dan keprihatinan itu timbul tenggelam karena desakan dan daya tarik pertumbuhan ekonomi di Jakarta.
Tim dari Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta menyimpulkan, penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 sentimeter hingga lebih dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007.
Hasanuddin Z Abidin, salah seorang peneliti, menyatakan, sebagian besar kawasan barat hingga utara Jakarta mengalami penurunan tanah antara 5 cm dan 12 cm. Adapun wilayah tengah hingga timur penurunan tanahnya hingga 5 cm. Penurunan kawasan timur laut hingga selatan berkisar 2-4 cm.
Penurunan permukaan tanah juga menciptakan kawasan-kawasan cekung yang lebih cepat tergenang saat banjir.
Sebagian kawasan Pademangan, Jakarta Utara, yang beberapa tahun lalu nyaman dilalui, misalnya, kini menjadi langganan rob saat air laut pasang. Kawasan wisata Ancol Taman Impian yang beberapa tahun lalu lebih tinggi daripada permukaan laut kini harus membangun tanggul di sepanjang bibir pantai guna menahan air laut saat pasang. Tanggul pun harus rutin ditinggikan karena permukaan tanah terus turun.
Data Dinas Pengembangan DKI Jakarta bahkan lebih mengerikan. Pada periode tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang mencapai 60 cm hingga 80 cm. Karena merata, amblesan ini menjadi tidak terasa. Bila penurunan ini terus berlanjut, "tenggelamnya" Jakarta sudah di depan mata.
setiap tahun 320 juta meter kubik air tanah disedot dari perut bumi Jakarta. Padahal, berdasarkan sebuah studi lingkungan yang luas, maksimal air yang bisa disedot dari wilayah DKJ Jaya hanya 38 juta meter kubik. Ini berarti tingkat penyedotan airnya hampir sepuluh kali lipat dari yang seharusnya.
Dengan terus berkembangnya kota dan makin banyaknya bangunan yang berdiri, serta makin sedikitnya lahan terbuka hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air, kondisinya lebih parah lagi di masa depan. Sebab bukan hanya jumlah air yang disedot dari perut Jakarta makin besar, tapi juga air yang bias masuk ke dalam perut makin sedikit. Itulah sebabnya, makin lama permukaan tanah Jakarta makin cepat turun.
Berdasarkan data yang dikemukakan Dr. Ali Firdaus, rata-rata penurunan permukaan tanah di Jakarta 10 sentimeter atau sepersepuluh meter tiap tahun. Di Jakarta Barat, misalnya, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakpus, penurunannya 80 sentimeter dalam delapan tahun terakhir.
Yang pertama-tama perlu mendapat perhatian adalah, Jakarta sebetulnya merupakan kota air. Hal ini bisa dilihat dari aspek eco-geografisnya. Jakarta terletak di bawah Bopunjur (Bogor Puncak dan Cianjur) – sebuah kawasan yang mempunyai curah hujan tinggi dan menjadi asal muasal berbagai sungai yang mengalir ke wilayah Jakarta. Karena itu, secara alami, di zaman dulu, Jakarta terkenal sebagai wilayah yang mempunyai banyak situ atau rawa. Sampai kini pun, daerah yang menggunakan nama “rawa” masih banyak sekali di Jakarta. Misalnya, rawajati, rawabokor, rawasari, rawa mangun, rawa buaya, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan bahwa daerah bersangkutan memang dulunya adalah rawa. Di tahun 1960-an, di Jakarta masih ada ratusan rawa yang berfungi untuk menampung air hujan dan limpahan air dari Bopunjur. Rawa-rawa ini telah menyelamatkan Jakarta dari banjir besar, sekaligus penyuplai air tanah di sekitarnya.
Kini rawa-rawa tersebut nyaris hilang. Untuk itu, Pemda DKI,  seharusnya kembali menghidupan rawa-rawa tersebut. Bila perlu, membangun rawa yang baru karena di lokasi rawa yang lama sulit dibersihkan karena terlalu banyak penduduk dan pemukiman. Rawa umumnya berada di dataran rendah, karena itu pembangunan kembali rawa harus di lokasi yang rendah. Wilayah yang rendah untuk lahan terbuka hijau, sedangkan yang tinggi untuk pemukiman. Bila perlu di lahan terbuka hijau itu dibangun rawa-rawa baru, sehingga bisa menjadi penampung limpahan air, baik dari hujan maupun dari limpahan Bopunjur. Karakter geografis Jakarta yang seperti itu, sulit dirubah, kecuali Jakarta pindah lokasinya.
Bung Karno dulu pernah berpikir akan memindah lokasi ibu kota Jakarta ke wilayah yang aman dari banjir. Sayang ide besar Bung Karno itu tak bisa diwujudkan oleh para pemimpin sesudahnya. Jakarta kembali menjadi ibu kota negara satu-satunya, sekaligus menjadi kota dagang terbesar di Indonesia. Dua status kota Jakarta inilah yang menjadikan pembangunan dan pembenahan Jakarta sulit berjalan bersama. Di AS, misalnya, ibu kota negara adalah Washington. Kota dagang terbesarnya adalah New York. Sebagai ibu kota, Washington bisa dirapikan dan dibuat menjadi kota yang berkarakter sebagai ibu kota Negara. Banyak tanah lapang, banyak taman, banyak lahan terbuka hijau, dan nyaman. Sedangkan New York sebagai kota dagang dibangun sesuai karakter bisnis. Banyak gedung bertingkat dengan lahan yang sangat efisien dari aspek bisnis.
Sekarang bagaimana Jakarta? Inilah sulitnya. Kedua ciri, baik sebagai ibu kota dan kota dagang, sudah terlanjur besar sehingga sulut dipisahkan. Dengan letak geografis Jakarta yang mau tak mau harus menerima banjir kiriman dari Bopunjur dan rob dari pantai utara, mestinya sejak dini, hal itu harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat.
Untuk sementara, yang perlu dipikirkan serius, bagaimana menyelamatkan Jakarta dari limpahan air Bopunjur. Jawabnya, itu tadi, harus menghidupkan kembali rawa-rawa yang mati dan membuat rawa baru di daerah yang permukaan tanahnya rendah. Kedua, membuat sejuta sumur resapan untuk menyerap air hujan yang melimpah di Jakarta. Jika membuat sumur resapan yang besar sulit, bisa diatasi dengan membuat biopori yang garis tengahnya 30 cm dengan kedalaman satu meter, asal jumlahnya banyak. Biopori terbukti bisa menjadi sumur resapan mini yang cukup efektif menyerap air hujan. Setiap rumah tangga di Jakarta bisa membuat beberapa biopori di sekitar tempat tinggalnya. Ketiga, untuk mengatasi rob dan intrusi air laut, perlu digalakkan penanaman pohon mangrove di pantai utara Jakarta. Pohon mangrove disamping bisa mengatasi abrasi dan menahan gempuran ombak saat terjadi rob, juga bisa membuat Jakarta makin sejuk. Ini karena daya serap karbon dioksida pohon mangrove dua kali lipat dibanding pohon biasa.
( Penulis, Ibu Rumah Tangga Anggota Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Tinggal di Bandung, Dari berbagai sumber )

0

Kamis, 17 Januari 2013

Kesejateraan Untuk kaum buruh



Oleh  : Yati Nurhayati

Buruh kembali kejalan, Disukabumi sekitar 1200 buruh menuntut UMK (PR, 11/10), Di Purwakarta ratusan buruh berdemo karena PHK yang dinilai sepihak (PR, 11/10), begitu pula Bandung, para buruh memblokir jalan Wastukancana, akibat iring-iringan buruh tersebut beberapa ruas jalan lumpuh/ macet (PR,12/10) .
Mungkin dengan cara begitulah  (pikir para buruh) aspirasinya akan didengar  oleh pemerintah setempat untuk disampaikan kepada para pengusaha. Sebenarnya tidak banyak keinginan buruh, intinya mereka semua menuntut kesejahteraan.
Implementasi Negara Pancasila dituangkan dalam tujuan bernegara kita : ialah  “ melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. “
Jadi seluruh kegiatan kenegaraan kita dapat dikelompokkan dalam dua golongan besar yang menjadi criteria utama :1. Menyelenggarakan kehidupan bernegara, 2. Menyelenggarakan kesejahteraan social.
Jika melihat aksi para buruh yang menghiasi beberapa media massa akhir-akhir ini, berarti buruh tersebut belum merasa sejahtera.  Karena jika sudha terpenuhi semua kebutuhan hidupnya dalam arti kata sejahtera mereka tidak akan turun lagi kejalan.               
JawaBarat merupakan kota industry, sehingga sebagian besar penduduknya adalah karyawan/ buruh yang bekerja pada orang pribumi maupun pada orang asing. Jumlah buruh yang banyak ini dimanfaatkan untuk turun kejalan, melakukan aksi demo apabila ingin menuntut haknya ataupun ingin melakukan suatu perubahan.
Kesejahteraan sosial masih jauh sekali dimiliki oleh buruh, terutama diperusahaan yang memberi upah sangat minim, namun hal tersebut terpaksa buruh terima karena sulitnya mencari pekerjaan dan kurangnya keterampilan buruh. Sehingga tidak memiliki daya tawar. Mereka berpikir daripada tidak memiliki pekerjaan, tidak apa-apa walaupun gajinya rendah.
Jika diteliti penghasilan karyawan perbandingannya dengan deret hitung  dan kebutuhan hidup sebagai deret ukur, ketika penghasilan umpamanya 1 maka kebutuhan 1 dan ketika kebutuhan 2 maka penghasilan masih 1 dan ketika kebutuhan 5 maka penghasilan baru 2, dan begitu seterusnya.
Hal inilah yang menjadi pemicu utama pemogokan-pemogokan kerja disejumlah wilayah, yaitu kebutuhan hidup yang mendesak, sementara pemerintah lebih sering berpihak pada pengusaha.
Setelah para buruh melakukan aksi besar-besaran, barulah pemerintah turun tangan. Itupun dengan berbagai ancaman jika tidak dipenuhi tuntutannya akan kembali melakukan aksi yang lebih besar. Kenapa harus dengan cara seperti itu ? tidak bisakah salah satu dari perwakilan buruh datang baik-baik kepada bupati atau gubernur untuk mengungkapkan aspirasi seluruh buruh. Mungkin Aksi turun kejalan yang merugikan banyak pihak  tidak akan terjadi.
System perburuhan di Indonesia masih dirasakan eksploitatif, bekerja dibawah tekanan dan intimidasi merupakan bentuk pengeksploitasian. Dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, hal ini dapat dilihat pada politik colonial Belanda yang umumnya bersifat eksploitatif dan didominasi kepentingan ekonomi untuk kemakmuran negeri Belanda sejak bangkrutnya Verenigde Osst IndiSHE Compagnie (VOC), hingga kapitulasi Belanda terhadap Jepang tahun 1942, pemerintah cenderung hanya mencari keuntungan terutama pada masa sebelum politik etis (1900).
Kemudian pada masa kemerdekaan keberpihakan terhadap pengusaha memiliki dimensi yang berbeda, tergantung pemerintah yang sedang berkuasa, misalnya pada masa presiden Soekarno digulirkan program benteng (1955) yang bertujuan melindungi dan mengangkat pengusaha pribumi, sedangkan kebijakan pembangunan masa presiden Soeharto dalam prakteknya lebih menampilkan konglomerat. Pada zaman Megawati lebih memihak kepada pemilik modal (investor).  Dan sekarangpun di era SBY buruh belum bisa merasakan kesejahteraan yang diinginkannya. Terlebih jika system tenaga kontrak dan tenaga alih daya belum dihapus.
Tuntutan para buruh mengenai penghapusan system tenaga kontrak ini sudah lama berlangsung, namun sampai saat ini belum ada realisasinya. Nampaknya diperlukan perjuangan yang tidak mudah bagi para buruh untuk sebuah kata kesejateraan.  system kerja kontrak ini sangat merugikan kaum buruh, walaupun jam kerja nya sama karyawan kontrak dan karyawan tetap memiliki kesenjangan pertama dalam hal gaji, dan yang kedua dalam hal libur / cuti, karyawan konrak dibeberapa perusahaan tidak mendapatkan cuti, jadi jika tidak masuk kerja tidak dibayar, yang ketiga masalah pesangon , karyawan kontrak yang habis masa kontraknya bisa di keluarkan begitu saja tanpa konpensasi apapun.
Mudah-mudahan dengan diberlakukannya moratorium tenaga alih daya dan system kontrak ini bisa membawa angin segar bagi para buruh. Dan buruh tidak lagi harus turun kejalan untuk menuntut kesejahteraan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
0

Senin, 14 Januari 2013

Menyoal Penambahan Jam Pelajaran


Didalam Pikiran Rakyat (20/11), disebutkan bahwa perubahan kurikulum pendidikan tahun 2013 akan dikuti dengan penambahan jam pelajaran.  Hal ini disambut baik dari berbagai pihak, walaupun pro dan kontra pasti ada. Dalam perubahan kurikulum ini yang harus juga diperhatikan adalah kompetensi guru, jika guru mampu memberikan suasana nyaman, dan mampu memberikan pelajaran dengan menyenangkan, tidak monoton, akan membuat siswa merasa enjoy  dengan hari-harinya dikelas. 
Saat ini  jumlah jam pelajaran di jenjang SD sekitar 28-32 jam perminggu. Jika ditambah 4 jam perminggu, tidak akan memberatkan peserta didik. Yang perlu diperhatikan adalah mengalokasikan waktu, karena setiap orang memiliki waktu paling prima, biasanya berbeda-beda, namun karena ini untuk siswa satu kelas ambillah waktu paling prima siswa yaitu di waktu pagi, ketika otak masih fresh tenaga masih full, maka berikanlah pelajaran-pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi dan focus yang menjadi prioritas. Sedangkan waktu siang hari, sesudah istirahat  dimana stamina sudah turun berikanlah pelajaran-pelajaran yang ringan dan menyenangkan bagi siswa, dan tidak ada salahnya dibarengi dengan games/ permainan yang disukai anak.
Dengan mengalokasikan waktu prima seperti diatas diharapkan anak  mampu menyerap materi pelajaran dengan baik.  Hal memenej waktu ini sangat penting, seperti yang dijelaskan dalam buku 10 kebiasaan muslim yang sukses karangan Dr. Ibrahim bin Hamd, dikatakan waktu itu ada dua macam, waktu yang bisa di menej atau diatur dan waktu yang sulit dimenej atau diatur. Waktu yang bisa dimenej atau diatur terbagi menjadi dua, yaitu waktu dimana kita berada pada puncak stamina dan semangat, seperti pada jam-jam pertama waktu kerja. Dan waktu dimana kita berada pada stamina dan semangat yang rendah, seperti pada saat akhir jam kerja.
Kurikulum  baru dan penambahan jam pelajaran harus dibarengi dengan kompetensi guru, jangan sampai anak merasa bosan dan tidak betah berlama-lama dikelas. Hal ini banyak terjadi di SDIT dan SMPIT yang kurang memperhatikan kualitas guru, mereka menerapkan system fullday tapi tidak dibarengi dengan kualitas guru yang kompeten.
Masih menyangkut masalah penambahan jam pelajaran, secara otomatis guru bertambah jam mengajarnya.  Saat ini jam mengajar / kerja guru termasuk sedikit, terutama bagi guru kelas 1-3 yang masuk jam 7 pagi keluar jam 9.30, jam 10 pagi ia sudah bisa berkumpul bersama keluarga. Hal ini menjadi pemicu kecemburuan social dimasyarakat, baik bagi PNS lainnya, yang masuk kerja jam 8 pulang jam 16.00. atau bagi pekerja non PNS. Jika dibandingkan dengan gaji guru yang setiap tahun ada peningkatan, dan ada sertifikasi, jelas ini menjadi pemicu kecemburuan social.
seharusnya  disekolah-sekolah diterapkan bahwa guru yang selesai mengajar dikelas, tidak diperbolehkan pulang sebelum jam pelajaran selesai. Contohlah seperti SDIT, SMP IT ataupun Tk IT, mereka menerapkan hal itu, guru yang selesai mengajar harus mempersiapkan untuk pelajaran besok hari. Untuk mengisi waktu luangnya guru juga bisa membaca di ruang perpustakaan, atau berdiskusi sesama guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran maupun kualitas anak didik. Karena kalau sudah dirumah, terkadang tidak ada waktu untuk mempersiapkan materi pelajaran, dengan alasan banyak pekerjaan rumah tangga, apalagi jika guru tersebut seorang ibu rumah tangga juga. Jarang ada waktu untuk membaca atau berdiskusi.
Guru menjadi sorotan dimasyarakat, apalagi sekarang masyarakat semakin cerdas dan kritis, peningkatan kesejahteraan guru yang diimplementasikan lewat gaji guru setara dengan ABRI, lebih tinggi dari pegawai-pegawai lainnya, harus dibarengi dengan kompetensi dan etos kerja.
Karena masyarakat (orang tua dan siswa) menaruh harapan yang besar terhadap guru. Melalui gurulah cita-cita mereka bisa terwujud.  Masyarakat sangat mendambakan sosok guru yang dihormati, disegani, dicintai dan berwibawa. Mendidik dan membimbing dengan penuh kasih sayang dan dapat memberikan teladan yang baik bagi siswa.
Guru akan selalu berada dihati para siswa dengan sejuta kenangannya, manakala guru tersebut bisa menggantikan peran orangtua disekolah, yaitu mendidik dan mengayomi para siswa dengan memberikan suri  teladan yang baik.
Dan dalam rangka hari guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke 67 PGRI pada tanggal 25 November, mudah-mudahan para guru semakin menyadari bahwa ia sebagai unsure pendidikan yang memegang peran penting dan strategis dalam pengembangan sumber daya manusia.
Oleh : Yati Nurhayati

 











0

Kamis, 10 Januari 2013

Planet Baru Layak Huni Ditemukan





Dalam Pikiran Rakyat (9/11), disebutkan bahwa tim astronomi Inggris-Jerman menemukan Planet layak huni. Planet tersebut adalah HD 40307 yang memiliki massa sedikitnya tujuh kali massa Bumi, tapi mengorbit dalam jarak yang sama dari matahari. Artinya planet tersebut menerima resapan energi matahari sama seperti yang diperoleh Bumi.
Salah satu anggota tim peneliti dari Universitas Hertfordshire, Hugh Jones, juga mengatakan bahwa Planet HD 40307 adalah planet yang kondisinya paling mendekati Bumi dalam hal zona yang bisa dihuni. "Planet ini berada di orbit yang bisa dibandingkan dengan yang ada di Bumi, sehingga meningkatkan kemungkinan planet tersebut bisa ditinggali," tambahnya.
Para astronom yang menemukan planet itu mengungkapkan temuan mereka di jurnal Astronomy & Astrophysics berdasarkan kajian data spektrograf HARPS yang dipasang pada teleskop European Southern Obersevatory di La Silla, Gurun Atacam di Chile.
Alat HARPS mampu mengambil gambar perubahan kecil dalam warna cahaya yang datang dari bintang tuan rumah saat cahaya tersebut bergoyang di bawah pengaruh daya-tarik planet yang mengorbit. Tim tersebut menggunakan teknik baru untuk menyaring sinyal yang disebabkan oleh bintang tuan rumah itu sendiri.
“Ini secara mencolok meningkatkan kepekaan kami dan memungkinkan kami mengungkapkan tiga planet baru di sekitar bintang tersebut,” kata Mikko Tuomi.

Selama ini kita mempercayai hanya diplanet bumi lah yang ada kehidupan, namun para astronom tidak percaya begitu saja, mereka selama berpuluh-puluh tahun melakukan penelitian mengenai planet layak huni ini. Pada awalnya Mars digembor-gemborkan sebagai planet layak huni setelah bumi karena letaknya yang dekat dengan bumi, namun kenyataan ada planet yang lebih mirip dengan bumi sehingga bisa dikatakan lebih layak huni.
Sebelumnya muncul juga  nama Gliese 163c. Massa planet tersebut 6,9 kali massa Bumi dan memiliki periode orbit 26 hari. Bintang katai merah yang diorbit planet ini berjarak 49 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Dorado. Dalam pengumuman hasil penelitian, para stronom menuturkan bahwa "Gliese 163c bisa berukuran 1,8 - 2,4 jari-jari Bumi, tergantung dari komposisinya, mayoritas batuan atau air."
Gliese 163c menerima cahaya dari bintangnya 40 persen lebih banyak dibandingkan Bumi. Jadi, Gliese 163c lebih panas. Sebagai perbandingan, Venus menerima cahaya Matahari 90 persen lebih banyak dari Bumi.
"Kami tak mengetahui karakteristik atmosfer Gliese 163c, tapi jika kita mengasumsikan bahwa atmosfer itu adalah scale-up dari Bumi, maka temperatur permukaannya sekitar 60 derajat Celsius," papar peneliti seperti dikutip Daily Mail, Rabu (5/9/2012).
Dengan temperatur itu, maka tak mungkin makhluk hidup kompleks seperti manusia dan hewan  `tingkat tinggi bisa hidup. Meski demikian, keberadaan mikroba yang mampu hidup di lingkungan ekstrim dimungkinkan.


Sebelumnya ditemukan pula planet yang layak huni seperti diuraikan BBC, Rabu (23/11/2011), Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49) dan Gliese 581d (0,43).
Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti memiliki air dan energi.
Penelitian planet layak huni belakangan ini maju pesat, salah satunya dengan sumbangan teleskop antariksa Kepler yang berhasil menemukan lebih dari 1.000 kandidat planet layak huni. Teleskop di masa depan diperkirakan bisa mendeteksi biomarker, seperti cahaya atau pigmen klorofil yang ada pada tumbuhan.
Selain menyusun pemeringkatan planet layak huni, Schulze-Makuch juga menyusun Indeks Kemiripan Bumi untuk mengetahui planet dan bulan yang kondisinya paling mirip dengan Bumi. Hasilnya juga menyatakan bahwa Mars bukanlah yang pertama.
Gliese 581g adalah planet yang paling mirip Bumi, dengan skor 0,89 sementara Gliese 581d punya skor 0,74. Mars sendiri punya skor 0,7 dan Merkurius 0,6. Indeks Kemiripan Bumi dikembangkan dengan melihat ukuran planet, densitas, dan jarak dari bintang induk.
Gliese 581g dan Gliuese 581d adalah planet yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581. Meski layak huni dan mirip Bumi, mencapai kedua planet itu terbilang sulit karena jaraknya yang sangat jauh. Gliese 581g berjarak 198 miliar kilometer.

Pernah Di Muat Di Pikiran Rakyat
0