Memberi dan Menginspirasi

Senin, 09 Desember 2013

CERPEN : SEKUNTUM MAWAR MERAH




Hembusan angin malam yang menusuk jaringan kulit hingga terasa kepermukaan tulang tidak membuatku ingin beranjak dari tempat ini.  Bau khas tanah setelah diguyur hujan membuat udara segar sekali terasa. Nampak dilangit bintang-bintang sudah bermunculan kembali, setelah tertutup awan dan akhirnya turun hujan. Ada satu bintang yang cahayanya begitu indah, aku ingin seperti bintang itu, bersinar terang menerangi malam.
Tak sabar aku menunggu hari esok, hari dimana aku bisa menunjukkan kepada orang-orang  yang selama ini aku cintai dan mencintaiku. Pada Bunda, ayah juga Kaka. Bahwa inilah aku. Aku yang manja, kekanak-kanakkan,  sering sakit-sakitan dan sederet kekurangan lainnya. Ternyata bisa mandiri, dan punya karya yang bisa  aku banggakan. Bicara Kaka, aku jadi rindu sekali sama Kaka, setelah hampir 3 tahun tidak bertemu, semenjak Kaka kuliah di negeri Kangguru, komunikasi hanya lewat email dan facebook, itupun sangat jarang.  Dan besok kami akan bertemu, dihari yang akan bersejarah buatku.  Kaka yang super sibuk mau menyempatkan pulang  untukku,  yap tentu saja untuk kebahagianku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pertemuanku besok, apakah aku bisa merubah suasana  beku dan dingin menjadi lebih hangat.  Apakah  setelah jarak dan waktu memisahkan akan mampu menghancurkan     dinding pemisah antara aku dan Kaka?  Kita lihat saja besok.
Kutarik nafas dalam-dalam “ aah andai Kak Tari ada disini menemaniku menikmati udara malam, andai aku bisa seakrab bintang dan rembulan. “ penyesalan yang bertubi-tubi tentang temperamenku yang sangat jelek tak bisa kuhindari setiap aku teringat Kaka, ingat kebaikannya, ingat perhatiannya, ingat segalanya.
Aku baru merasakannya akhir-akhir ini, ini sebuah kebesaran Allah, saat aku memutuskan untuk jauh dari ayah bundaku, saat aku kuliah dikota hujan ini. Ada banyak hal yang aku rasakan, aku menemukan sesosok bintang yang baru, yang unik, yap manusia yang unik.
Aku dan Kak Tari dilahirkan dari rahim yang sama, berada diperut Bunda sama-sama, menghisap  darah yang sama, bahkan lahirpun hampir bersamaan. Tapi kami berbeda,  karakter berbeda, fisik berbeda, hobi berbeda, kak Tari  orangnya supel, komunikatif, kreatif, selalu ingin nomor satu dalam segala hal, tidak pernah mau menerima kekalahan, sedikit egois. Justru aku sebaliknya, sulit bergaul, belum apa-apa sudah nerveus, aku selalu nerima kaka nomor satu dikelas, mungkin egoisnya sama. Fisik kaka sehat, sebaliknya aku sering sakit-sakitan, selalu ada absen setiap bulannya. Bahkan kalau kecapean aku sering pingsan di sekolah. Inilah yang paling membuatku iri, kak Tari pintar, hingga selalu menjadi kebanggaan ayah, setumpuk prestasi diraihnya, juara olimpiade MIPA, cerdas cermat tingkat provinsi, juara baca puisi, mendapat beasiswa prestasi, selalu peringkat pertama dikelas, dan masih banyak lagi prestasi-prestasi disekkolah maupun diluar sekolah. Untungnya wajah kami mirip sekali, sekilas orang tidak bisa membedakan kami, kalau kak Tari lebih cantik pasti aku lebih iri lagi. Gimana ngga cemburu, kalau ayah selalu bandingin aku sama Kak Tari. Aku sering denger ayah atau bunda selalu bandingin aku sama Kak Tari dihadapan temen-temennya. “ Mentari memang beda sekali sama adiknya Bintang, Mentari tuh bla-bla-bla…, sedangkan Bintang bla-bla-bla…”
Dalam beberapa event Kak tari memang selalu menang, ia tak pernah kalah, dan tak mau menerima kekalahan. Ayahpun mendidik kaka lebih keras, kaka harus selalu nomor satu dikelas, harus punya nilai Sembilan, pokonya kaka harus the best. Tapi tidak seketat itu sama aku, kalau aku dikerasin bisa-bisa sakit, atau stress. Aku lebih dekat sama bunda, karena bunda lebih sabar menghadapi aku.
Pernah suatu hari saat itu aku masih duduk di SD, kaka nggak mau pulang karena takut sama ayah, dan malu telah mengecewakannya, peringkat pertama tak lagi disandangnya, tergeser oleh Dania anak baru pindahan dari luar kota.  Kaka nangis mau rangking satu, tidak mau rangking 2, sudah dibujuk oleh wali kelas kaka tetap tak mau pulang, dia takut kalau ayah marah. Akhirnya ayah datang kesekolah membujuknya untuk pulang. Aku yang hanya dapat rangking 5, merasa biasa saja. Kak Tari mendapat rangking 2 sedih sekali kelihatannya.
Terkadang aku benci sama Kak tari, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia punya banyak teman, dia mendapatkan perhatian dari banyak orang, bahkan dari teman laki-laki, yang membuat aku semakin keki.
Aku sadar bahwa tidak sepantasnya aku iri hati terhadap saudara sendiri, tapi aku sulit memulai dari awal, memulai komunikasi yang sudah lama beku, akupun ingin seperti Alya dan kakanya bisa seperti sahabat yang selalu pergi kemana-mana berdua, bisa menjadi temen curhat, atau sekedar jalan-jalan bareng. Atau seperti Reynisa dan tetehnya yang bisa bermanja-manjaan, bisa kompakan. Aku yang memulai kebekuan ini. Temperamenku yang jelek selama ini, dan kaka orangnya egois, tidak pernah mau mengalah walau demi adiknya.
Akupun sudah berusaha untuk memperbaiki suasana, mengubah  temperamenku  yang  jelek    dan ingin memulai suasana yang hangat. Tapi selalu tidakberhasil, aku selalu gagal untuk mendekati Kak tari. Soalnya Kaka jarang ada dirumah, tersita oleh kegiatan ekstrakulikulernya, pas datang kerumah  dalam keadaan lelah, penat, menghiasi wajah Kaka.  Akupun ngga tega mengganggunya, atau hanya ingin sekedar cerita tentang teman-temanku.
Jika ingat masa lalu, aku memang keterlaluan, terlalu iri hati, barulah kini aku rasakan arti dari sebuah keluarga, setelah semuanya jauh, rasa rindu sering menyiksa perasaanku. Memang kesendirian telah membuatku bisa memaknai hidup ini. Iri dan dengki telah menguras seluruh energiku dan akupun semakin terpuruk dalam lembah kesengsaraan. Dan aku sendiri tak menyadari potensi yang luar biasa dari diriku.
Jauh dari orang-orangyang aku  cintai ternyata bisa menggali potensi, dan mengenali diri ini,  aku menjadi percaya diri, tidak menganggap diri ini lemah, dan tidak mengukur diri ini dari banyaknya prestasi, atau dari nilai Raport, atau juga dari penghargaan orang lain terhadap diri kita, tapi lebih dari itu, aku menilai diri ini karena aku begitu berharga.
Aku banyak merenung , merenungi  semua yang  terlintas dibenakku, merenungi  segala yang ada dihadapanku, yang aku lihat, aku dengar dan aku raba.  Ternyata dari hasil perenunganku lahirlah tulisan-tulisan yang sedikit dimetaforakan  dan berbau sastra, yang ketika aku baca kembali membuatku kaget, apakah ini benar-benar karyaku ? aku sendiri tidak percaya.
Sebagian besar tulisanku aku kirimkan ke emailnya Kaka, kaka lah komentator pertama terhadap hasil karyaku selama ini.  Ia merupakan motivator dan inspiratorku. Jika ada yang layak dipublikasikan, aku kirim kemedia, lumayan honornya untuk nambah-nambah uang saku. Walaupun tidak setiap tulisanku diterima oleh redaktur.
Malam semakin larut, dan akupun terhanyut dalam kenangan bersama  Kaka, mungkin karena besok kami akan bertemu. Kak Tari akan datang ke acara launching novel perdanaku, aku ingin menarik malam ini agar segera berlalu,  hari yang kunanti-nanti kini telah tiba , dimana aku bisa tunjukkan prestasiku pada dunia, hari dimana ayah memandangku dengan bangga, seperti yang ayah lakukan jika kak Tari mendapat kemenangan, sudah lama sekali aku memimpikannya.
***
Dipenghujung acara
“ Novel ini aku persembahkan untuk ayah bundaku yang setiap desahan nafasnya ada sebait doa untukku, dan untuk Kak tari satu-saatunya yang tiada henti menjadi bank inspirasiku selama ini…”  semua mata memandangku dengan bangga, kulihat kaka dengan sekuntum bunga mawar merah dibarisan belakang tersenyum ramah padaku, tapi kenapa aku tak melihat bunda ?   bukankah seharusnya  mereka sama-sama.
Tidak sabar aku ingin menemui Kak Tari, kupersingkat  sinopsys novelku dan bergegas turun dari panggung, aku menyelinap diantara pengunjung , tiluit ,…tiluit…tiluit..suara ponselku berbunyi sebelum aku sempat temui Kak tari di bangku belakang. “ Hallo !” “ Iya bun, kenapa, Bunda  dimana sekarang ? “ “ acaranya sudah selesai nak?”  “ udah Bun, kenapa suara Bunda ? Bunda nangis Ya ? “ “ syukurlah, maafin Bunda ya sayang, bunda nggak bisa hadir, semalam Bunda dapat kabar pesawat Kaka mu hilang jejak entah jatuh dimana, seharusnya malam sudah sampai,  ini Bunda masih di bandara  tunggu kabar. Bunda sengaja nggak kasih kabar ke bintang  tadi malam, takut mengganggu konsentrasimu mempersiapkan launching bukunya.” “ Apa ? Lalu siapa wanita tadi bunda ? “ cepat aku bergegas ke bangku belakang. “ Hallo , Bintang kamu masih disana ? kalau sudah selesai acaranya temani bunda di Bandara ya?”  “Ya Bun.” Kututup ponselku segera. Penat lelah kurasakan, maafin aku Kak belum sempat minta maaf, belum sempat memperbaiki hubungan kita. Kulihat sekuntum mawar merah tergeletak di atas kursi. “ bunda aku tak bisa setegar bunda “  aku jatuh tak sadarkan diri.
Bandung, Awal Desember 2005
0

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar, saran dan kritik dengan bahasa yang sopan, jangan spam ya!