Rabu, 10 April 2013

Membentuk Generasi Qurani


Tawuran antar pelajar  menjadi pemberitaan terhangat disejumlah media masa. Setelah jatuh korban, barulah para elite berkomentar. Saling menyalahkan antara sekolah, guru, orang tua dan system pendidikan.  Yang semuanya tidak terima  disalahkan begitu saja. Daripada kita saling menyalahkan yuk kita duduk bersama, intropeksi diri dan mencari solusi  agar budaya laten tawuran ini tidak mengakar pada generasi-generasi yang akan datang. Cukup korban tawuran hanya sampai disini.

Saatnya kita memperbaiki diri sendiri, yang tua harus menjadi teladan bagi generasi yang muda. Jika setiap individu ingin menjadi suri tauladan yang baik  dimanapun ia berada, baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat luas, lambat laun  masyarakat kita akan menjadi masyarakat madani, masyarakat yang dicita-citakan oleh setiap individu.

Marilah kita mulai dari diri sendiri, mulailah menjaga anak kita masing-masing, anak didik kita masing-masing, keluarga kita masing-masing agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang negative. Kenalkan anak pada Alquran dan nilai-nlai agama sejak dini. Agama  bukan hanya pelajaran hapalan, tapi agama harus merasuk ke qolbu masing-masing anak.

Jika anak sudah dekat dengan Al quran, mau membacanya, menghapalnya, dan mengamalkanya. Subhanallah dia akan terjaga hingga masa-masa remajanya ia gunakan untuk mengukir prestasi, dan ketika dewasa insya Allah orang yang dekat dengan Alquran tidka akan kepikiran untuk korupsi.

Karena Alquran merupakan suatu keajaiban, obat mujarab bagi setiap permasalahan kehidupan.  Sebagai orang tua   dirumah,  menyarankan anaknya untuk membaca Al quran setiap selesai sholat lima waktu, kalau bisa sarankan anak untuk menghapal Al quran, dengan metode one day one ayat ( sehari satu ayat). Untuk para guru, menyarankan anak bawa al quran saku kesekolah, agar sebelum memulai pelajaran bisa membaca Al quran terlebih dahulu, walaupun hanya satu ayat dan bersama-sama menelaah artinya. Jjika setiap individu orang tua dan guru melakukan hal-hal kecil seperti ini, insyaAllah perubahan besar akan terjadi di Negara kita.

Suatu perubahan tidak akan terjadi, jika tidak diusahakan. Dan perubahan besar dimulai dari hal-hal terkecil. Banyak pakar yang menyalahkan system pendidikan kita, yang hanya mengedepankan kecerdasan kognitif –akademis, yang berarti hanya mengasah kecerdasan IQ nya saja. Sedangkan kecerdasan emosi dan spiritualnya diabaikan.  Sehingga anak tidak memiliki integritas, kepecayaan diri, sportivitas, kreativitas yang semuanya itu melibatkan emosi.

Mengutip dari bukunya Ary Ginanjar seorang pakar ESQ, bahwa sebuah penelitian di Amerika serikat yang menghasilkan sebuah kesimpulan semakin tinggi IQ seseorang, maka ESQ nya semakin rendah.  Banyak anak-anak remaja yang labil, kehilangan jati diri, jjika kecerdasan IQ tidak dibarengi dengan kecerdasan emosi. Maka dari itu sekarang perusahaan-perusahaan besar untuk meningkatkan produktivitas karyawannya mengadakan pelatihan ESQ. dan ini sangat efektif.

Mengapa didalam dunia pendidikan tidak diterapkan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, hanya mengedepankan kecerdasan Kognitif akademis. Mudah-mudahan ini sebagai masukkan untuk para praktisi pendidikan, mentri pendidikan dan jajarannya yang saat ini sedang menggodok kurikulum pendidikan karakter yang pada tahun 2013 akan  diberlakukan.

Program pemerintah untuk mewajibkan belajar di madrasah diniyah pada tahun 2013 sangat menunjang untuk membentuk generasi qur’ani, mengingat pelajaran agama di sekolah sangat rendah. Madrasah diniyah ini dibawah Kemenag bukan Kemendikbud. Kedepannya sebagai syarat untuk masuk SMP Negri maupun swasta harus memiliki Raport madrasah diniyah.      

Pada tahun depan juga M nuh selaku mentri  pendidikan akan mengubah kurikulum berupa perampingan mata pelajaran dan penambahan jam pelajaran. Jika penambahan jam pelajaran memang diberlakukan, jangan sampai ada timpang tindih antara program kementrian Agama dan kementrian pendidikan. Karena madrasah diniyah yang sudah berlangsung saat ini mulai pukul 13 hingga pukul 16.
 
Segala usaha sudah kita lakukan untuk membentuk generasi unggul berlandaskan Al Quran, hal lain yang jangan sampai kita lupakan adalah berdoa untuk anak-anak kita, berdoa untuk kebaikannya, berdoa agar anak senantiasa mencintai dan mengamalkan Al Quran. Karena doa merupakan senjatanya orang beriman. Wallohu alam

Vivalog

Custom Search

banner