Sabtu, 22 Maret 2014

MEMBUDAYAKAN PENDIDIKAN INKLUSIF



Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional telah mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia sejak usia dini. Tak terkecuali anak berkebutuhan khusus / penyandang disabilitas. Karena ABK pun memiliki harapan dan cita-cita juga masa depan.
Jangan biarkan anak-anak  yang memilki keterbelakangan mental , lebih terpuruk keadaannya dengan  tidak memperoleh pendidikan sama sekali. Sekolah akan sangat membantu mereka  dalam bersosialisasi dan untuk memperoleh stimulant-stimulan dari para guru atau mentor.  Sehingga keadaannya akan  jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan anak yang terus dikurung dirumah karena memilki cacat.
Disini peran orang tuapun sangat mendukung, keterbukaan orang tua memiliki anak berkebutuhan khusus  akan mempermudah pemerintah setempat (desa) mendata dan memberikan bantuan. Bukan sebaliknya anak berkebutuhan khusus disembunyikan karena malu. Padahal ABK pun perlu disekolahkan.
Dulu masih tahun 90 an  seorang  teman penyandang disabilitas fisik merasa kesulitan mencari sekolah yang mau menerimanya. Pasalnya tidak semua sekolah menerima siswa dengan fisik berbeda (disabilitas).  Baru setelah orang tua teman saya tersebut datang menghadap kepada kepala sekolah, dan menyakinkan kepada kepala sekolah bahwa anaknya mampu untuk bersaing dengan teman-temannya yang normal, barulah kepala sekolah SMK di Bekasi itu menerimanya. Hampir saja teman saya tersebut putus sekolah.
Berbeda dengan saya yang juga memiliki cacat fisik, tidak merasa kesulitan dalam memasuki setiap jenjang pendidkan di Bandung. Dan setiap jenjang saya bersekolah di sekolah umum.
Saya sangat berharap  kejadian yang menimpa teman saya tersebut tak terulang  di zaman sekarang ini. Saat pemerintah sudah mulai peduli terhadap penyandang disabilitas. Bahkan sekarang pemerintah melarang sekolah umum untuk menolak penyandang disabilitas. Semua anak memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Saya merasa salut kepada bupati Kuningan  H.Aang Hamid Suganda sebagai pelopor Pembudayaan Pendidikan Inklusif di Jawa Barat. Dan saat ini sedang dibangun  SLB Negeri dengan tujuan sebagai daya dukung pendidikan khusus bagi warga Jabar dan Jateng PR ( 1/9). Bahkan ada beberapa CPNS yang memenuhi syarat akademik  dari penyandang disabilitas yang diangkat menjadi PNS di kabupaten Kuningan ini.
Saya juga merasa bangga ketika membaca HU PR yang menyatakan bahwa  96 siswa disabilitas mengikuti olimpiade sains  Nasional Di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Siswa tuna netra akan berlomba dalam mata pelajaran matematika, sedangkan siswa tunarungu akan berlomba dalam mata pelajaran biologi dan fisika ( PR 1/9 ).
Para siswa disabilitas telah mampu menunjukan bahwa mereka mampu bersaing dengan teman-temannya disekolah reguler. Dalam setiap kekurangan, seseorang pasti memiliki kelebihan tersendiri.
Jika pembudayaan pendidikan inklusif ini berjalan dan sekolah mau menerima penyandang disabilitas, maka diharapkan para pengusaha maupun pemerintah membuka peluang untuk bekerja  bagi penyandang disabilitas yang seluas-luasnya, tanpa diskriminasi. Dan pada akhirnya stigma negative masyarakat dan merasa tabu bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, lambat laun akan menipis.
Masalah pendidikan tidak akan terlepas dari seorang guru, jadi mempersiapkan guru khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus memang diperlukan.  Anak-anak berkebutuhan khusus harus ditangani  guru yang berkompeten dibidangnya. Tidak semua guru bisa mengajar di SLB. Begitu juga sekolah yang inklusif  harus mempersiapkan guru yang mampu berbahasa isyarat dan mengerti huruf braile.    
Saat ini banyak sekali penyandang disabilitas yang mampu menembus batas. Seperti Angkie Yudistia seorang tunarungu yang mampu menyelesaikan S2 nya disekolah regular.  Dengan keterbatasannya ia mampu bekerja dan memiliki jabatan penting di tempat ia bekerja . Habibie Hafsyah seorang yang menggunakan kursi roda  memilki cacat sejak lahir, mampu menjadi seorang internet marketer. Dan masih banyak lagi penyandang disabilitas yang memilki prestasi dibidang akademik, olahraga maupun kewirausahaan.
Yang terpenting adalah peran orang tua yang tidak mendiskriminasi anak-anak berkebutuhan khusus dan membiarkan anaknya untuk tetap bersosialisasi dengan dunia luar. Jika anak sudah merasa diterima di dalam keluarga maka mereka akan percaya diri untuk melangkah keluar rumah.
Sangat diharapkan kabupaten-kabupaten di Jawa Barat mengikuti jejak langkah Kabupaten Kuningan yang menjadi pelopor diberlakukannya pendidikan inklusif. Sehingga Jawa Barat menjadi Provinsi pelopor  dan akan diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.
Masalah penyandang disabilitas tidak terlepas dari masalah aksesibilitas. Memang diakui di Indonesia  aksesibilitas bagi penyandang cacat masih rendah. Hal ini terbukti di fasilitas-fasilitas umum seperti di stasiun maupun di Perguruan Tinggi  ternama di Indonesiapun masih kurang aksesibilitasnya.
Sangat jauh berbeda dengan di Negara Jepang yang pemerintahnya sangat peduli dengan penyandang cacat, sehingga jalan dan fasilitas umum lainnya dilengkapi dengan aksesibilitas bagi penyandang cacat. Seperti lift dan toilet yang bisa dipergunakan untuk pemakai kursi roda., Trotoar khusus untuk penyandang tunanetra.
Memang masih banyak yang harus  dibenahi dalam masalah pendidikan Nasional ini. Namun janganlah berputus asa, teruslah bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Dan untuk mewujudkan pendidikan bagi semua (education for all) harus dilakukan upaya yang memberi kemudahan bagi ABK untuk dapat bersekolah.
dimuat di Forum guru Pikiran Rakyat Tgl 6 September 2012

Minggu, 23 Februari 2014

CERPEN : LUKA YANG DITINGGALKAN MAMAK


Malam ini seperti juga malam-malam kemarin terasa dingin sekali,  daerahku memang daerah pegunungan yang terkenal dingin. Suara kodok bersahutan dengan binatang malam  mengalun membentuk irama. Sesekali terdengar suara tokek yang sengaja ku pelihara didalam rumah.  Penat sekali hari ini kurasa, setelah seharian duduk diatas mobil. Kusandarkan kepalaku diatas bantal. “  sudah kau jenguk mamak mu Ndi ? “ tiba-tiba nene muncul di balik tirai  mengagetkan aku yang sedang termenung. “ baah,” “ Bagaimana keadaannya ?”  “ kata perawat yang aku temui, keadaannya masih seperti kemarin. Kalau HB nya sudah normal, tunggu di oprasi”  aku ngeloyor keluar menghindari nene , pasti berkepanjangan nanyain keadaan mamakku.
Nene adalah orang yang merawatku  semenjak umurku satu minggu,  seminggu setelah kelahiranku, mama pergi meninggalkanku di rumah nene.  Semenjak itu aku tak pernah lagi merasakan belaian seorang ibu,  aku seperti anak yang dibuang. Malang memang nasibku, banyak anak yang tidak diakui oleh bapaknya, tapi aku tidak diakui oleh ibu kandungku sendiri. Mamakku tidak pernah menganggapku ada didunia ini.  Bahkan dalam kartu keluargapun tak ada namaku tertera disana.
Aku anak yang tidak dinginkan kelahirannya. Mungkin aku satu aib bagi mereka  sehingga aku disembunyikan dirumah nene yang terpencil, rumah nene tak seramai ini dulu, jarak satu rumah dengan rumah yang lain berjauhan. Disini masih seperti hutan, pohon-pohon hijau masih menjulang tinggi.  Jika malam tiba suara tongeret dan jangkrik saling bersahutan, disusul dengan binatang-binatang khas malam lainnya.
Keberadaanku adalah suatu kesalahan, tapi bukan kesalahanku, aku yang menanggung dosanya. Adilkah ini Tuhan ? entah apa yang dilakukan bapa dan mamakku, aku tak mengerti, mereka lakukan kesalahan tapi tak mau mempertanggungjawabkannya, nene yang sudah tua, lelah dan sakit-sakitan harus mengurus aku.  Aku juga tidak habis pikir apa yang mamakku lakukan sewaktu mengandung aku.  Sehingga aku lahir cacat, kata dokter itu pengaruh obat-obatan ketika hamil. Apakah mamakku berusaha menggugurkan kandungannya ? duuh sebegitu bencinya dia padaku. Seandainya aku bisa memilih lebih baik aku mati keguguran, daripada mengalami hidup yang sepedih ini. Tidak diterima oleh ibu kandung sendiri.
Aku tinggal di Sinjai sebuah kampung yang jauh dari ibukota Makkasar, memerlukan 9 jam perjalanan untuk menuju kesana. Setelah melewati 6 kabupaten yaitu Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, takalar, Gowa, Makasar.  Sinjai juga merupakan nama Kabupaten, hanya saja belum banyak pembangunan disini, penduduk kebanyakan bertani, hanya sebagian yang pergi ke Makasar untuk bekerja.  Bapakku sendiri tinggal di Bantaeng, kurang lebih 3 jam perjalanan dari kampungku,  disana bapakku kerja sebagai guru, beliau PNS dikota Bantaeng.  Tinggal bersama Mamak dan 3 orang adikku. Mamakku juga PNS, dia berasal dari Bulukumba, dari  keluarga bangsawan Bugis,  ayah nya orang terpandang disana.  Begitu cerita nene. Mungkin itulah alasannya kenapa mamakku malu mengakui aku sebagai anak,  aku anak haram, aku anak diluar nikah,  bahkan sampai usiaku 22 tahun kini aku belum tahu keluargaku di bulukumba, kake dan nene, om dan tanteku, juga sepupu-sepupuku.  Bagaimana aku bisa mengenal mereka , aku tidak pernah dipertemukan.   Nenekku pernah cerita bahwa ia diusir oleh mamakku. Waktu itu aku masih balita. Dengan susah payah nene membawaku ke Bulukumba, karena mamakku sedang ada disana dirumah orangtuanya. Maksud nene ingin memperkenalkan aku dengan keluarga besar  di Bulukumba, karena sejak kelahiranku tidak ada satupun  keluarga mamak yang  datang.  Baru sampai di depan pintu mamak cepat-cepat mengusir nene.  Tidak ada satupun keluarganya yang melihat kami.  Kecewa dan sedih sudah pasti nene rasakan. Perjalanan yang menyita waktu dan tenaga ternyata sia-sia. Tamu bukannya disambut dengan baik, malah diusir didepan pintu. Dari sana nene berjanji  tak akan menginjakkan kaki lagi di rumah menantunya lagi, yaitu mamakku sendiri.
Sedangkan mamakku juga merasa takut  pergi kerumah nene di Sinjai, karena setelah peristiwa itu seluruh keluarga bapa marah, kapan-kapan datang mamakku menginjakkan kaki di kampung ini akan habis di massa. Mereka marah karena telah memperlakukan nene dengan kasar dan menyia-nyiakan aku anaknya.    Setelah peristiwa itu akulah korban yang paling menderita, aku semakin jauh dengan mamak, tak ada harapan lagi untuk dekat dengannya,  bahkan nene yang paling dekat denganku sering menyisipkan kebenciannya dibenakku.  Karena aku tumbuh kurang kasih sayang orang tua, jadilah aku seperti anak liar,  sekolahku tidak tamat, ijazahku hanya sampai SD. Saat itu aku malu, teman-teman selalu mengejekku anak haram, tak punya ibu. Ya jelas aku malas pergi kesekolah. Sekarang umur sudah dewasa baru menyesal,  tidak ada pekerjaan tetap.  Sehari-hariku hanya ikut ke sawah dan kebun milik kake dan nene.  Sekali-kali penduduk kampung menyuruhku untuk manjat pohon kelapa,  hanya itu keahlian yang kupunya.
Mamakku kini terbaring lemah tak berdaya. 3 tahun yang lalu mamak sakit yang sama, yaitu kangker payudara. Setelah dilakukan operasi, diangkat satu payudaranya beliau sehat kembali. Dan beraktifitas seperti biasa.  Sekarang kangker itu menggerogoti payudara yang satu. Kulihat keadaan mamak lebih parah dari sakitnya 3 tahun lalu. Vonis dokter sudah stadium 4. Tipis harapan mamak untuk kembali sehat. Obat-obatan yang masuk hanya untuk memperlambat kematiannya.  Walaupun hidup dan mati sudah diatur oleh yang maha kuasa.
Ini kali ke 3 mamak memanggilku untuk datang ke Makasar tempat dimana  satu bulan ini  ia dirawat. Tapi entah mengapa hati ini begitu keras, mendengar mamak sakit parahpun aku tak bergeming,  mungkin tak ada ikatan batin lagi antara aku dan mamak. 22 tahun bukan waktu yang sebentar.  Selama itu aku tak mengenal sosok seorang yang seharusnya kupanggil mamak.  Aku tak mengenal wajahnya,  suaranya, bau badannya.  Dimanakah ia saat aku rindu belaiannya, saat aku rindu kasih sayangnya, saat aku ingin bermanja-manja, saat aku sakit, pernahkah ia memikirkan aku, mengkhawatirkan aku ?  anaknya, darah dagingnya,  sudah terlanjur pedih kurasakan.
            Kalau saja bukan nene dan tanteku yang menasihati, mungkin aku takkan pergi menemui mamak, ya nene bilang jangan kau siksa mamakmu, mungkin ia mau minta maaf atas kekhilafannya. Sehingga ia mati dalam keadaan tenang.  Allah sayang terhadap mamakmu, ia memberi sakit  yang parah supaya mamakmu bertobat dulu sebelum ajal menjemput.  Apabila ia bersabar dosanya sudah dihapus oleh Allah dengan penderitaan sakit yang berkepanjangan.
Kemarin aku menjenguk mamak di rumah sakit,  tapi aku tidak menemuinya, aku hanya berdiri di depan pintu kamar, kulihat mamak sedang tertidur lelap.  Aku masih ragu untuk mendekat. Lama aku berdiri  didepan pintu. Tapi tak ada satupun yang jaga mamak disini, biasanya ade dan tanteku yang jaga disini bergantian. Mungkin mereka sedang keluar cari  makanan. Karena aku datang pas waktu makan siang. Wajah mamak terlihat lebih tua dari usianya,  kulit muka nya hitam legam  pengaruh kemotrapi yang dijalaninya.  Rambutnya rontok hingga tak ada sehelai rambutpun yang menutupi kepalanya.  Tiba-tiba aku dikagetkan oleh seorang suster yang hendak memeriksa mamak.  Aku tanyakan kondisi kesehatan  mamak saat ini. Dan cepat-cepat berlalu takut apabila mamak bangun dan melihatku. Aku merasa belum siap bertemu dengannya. Walaupun sejak kecil aku selalu merindukannya, tapi aku tak mau bertemu dengan keadaan seperti ini. Disaat mamak sedang sekarat menunggu malaikat maut menjemput. Aku bilang begitu karena penyakit kangker stadium 4, sudah tipis harapan bisa  tertolong. Walaupun harapan selalu  dibisikkan oleh dokter ketelinga pasien. Hati kecil tak bisa dibohongi.
Aku pulang dengan perasaan gamang, meninggalkan mamak tanpa bertatap muka dahulu. Tapi cepat-cepat kuusir perasaan bersalahku, aku menghibur diri dengan menyalahkan mamak yang tak pernah peduli kepadaku. Aku berusaha untuk tak memikirkan dan acuh tak acuh.
***
Seminggu kemudian bapak datang, dia membawa kabar kalau mamakku, sudah agak baikan. Dan sekarang ia dibawa kerumah orangtuanya di Bulukumba, bapakku bilang kalau mamak ingin sekali bertemu denganku. Aku menoleh kearah nene, dan nene menganggukan kepala satu isyarat bahwa ia menyetujuinya.
Aku memasuki sebuah pekarangan rumah kayu yang lumayan luas, rumah bangsawan bugis. Ada perbedaan antara rumah kaum bangsawan dan rumah rakyat biasa. Walaupun sama-sama rumah panggung. Kalau rumah bangsawan letak tangganya ada ditengah. Tapi kalau rumah rakyat biasa letak tangganya ada di pinggir. Kuseret  langkah kakiku, terasa berat sekali. Maklumlah aku hanya orang kampung yang tak punya pendidikan. Yang akan kutemui keluarga besar mamak yang hampir semuanya punya jabatan penting. Disini memang asas kekeluargaan masih dipegang teguh. Dari mulai bupati sampai kepala desa masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga besar disini. Wajar kalau aku sedikit nerveus, baru kali ini aku akan dipertemukan dengan keluarga besar mamak. Keringat dingin mengalir diseluruh tubuhku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi didalam sana. Apakah mereka akan menolak atau menerima kehadiranku ?     
Setelah satu-satu aku salami tibalah saat yang paling mendebarkan, aku akan menemui mamakku didalam kamar.  Aku masuk sendiri tanpa ada yang menemani, kulihat mamak terbaring lemah. Bau busuk menusuk hidung, bersumber dari perban yang membungkus payudaranya. Kangker ganas itu telah menyedot berat badan mamak. Mamak nampak kurus kering. Aku duduk disamping mamak, kupandangi dengan lekat. Wajahnya tak ada bedanya denganku, bagaimana bisa mamak tak mengakui aku sebagai anaknya ? jerit batinku. Tak terasa ada aliran hangat menetes dipipiku. Lama-lama semakin deras seperti anak sungai mengalir. “ Ya Allah… cepat cabut penderitaan Mamakku.” Tiba-tiba hatiku berkata demikian.
Mata yang tertutup itu lambat-lambat terbuka. “ Kau Dida “ “ iye saya “ cepat cepat kuhapus air mata aku tak mau dibilang laki-laki cengeng. Mamak memelukku erat mencair sudah kebekuan antara kami. Mamak tergeletak dipangkuanku, aku kaget, kugoyang-goyang badannya, dan kupegang denyut nadinya. berhenti. Tak ada denyutan kurasakan, mamak meninggal dipangkuanku. Mamak pulang dipanggil oleh yang maha kuasa, siapapun tak mampu mencegah. Tak terkecuali aku yang baru bertemu dengannya. Andai aku bisa menawar, jangan dulu mamakku yang kau panggil Tuhan. Karena aku ingin merasakan lebih lama  hangatnya pelukan mamak.
Semua mata berkaca-kaca, bahkan adekku yang bontot meraung-raung. Menangisi mamak. Maklumlah ia anak yang sangat dimanja sama mamak. Aku memiliki 3 orang adek laki-laki, semua tinggal bersama mamak, dan sangat dekat dengannya. Merekalah yang paling terpukul dengan meninggalnya mamak. Adekku yang paling tua Azam namanya, ia lah yang paling dekat denganku, karena ia sejak kecil selalu pergi kerumah Nene di Sinjai. Ia memelukku dengan erat. Dan air mata kamipun tumpah.
Setelah dimandikan, disholatkan lalu jenazah disemayamkan diperistirahatan terakhir.  Aku duduk termenung ditangga rumah kayu, memandang kosong kejalan raya. Aku masih merasa asing dikeluarga ini. Jadi aku putuskan untuk tak banyak bicara. Tiba-tiba Azam datang dari dalam rumah dan menyerahkan sepucuk surat. Katanya dari Mamak.
“ beberapa hari yang lalu mamak memberiku sepucuk surat  yang ditujukan buatmu, tapi karena aku sibuk kuliah dan mengurus administrasi rumah sakit jadi baru sempat aku kasihkan sekarang. “  “ ndak pa pa, makasih ya.”
Sepeninggalnya Azam, kubuka surat dari Mamak dan kubaca dengan perlahan.
“ Ndi maafkan mamak, kini mamak sudah membayar karmanya. Mamak bersalah sudah menyia-nyiakan anak yang tidak berdosa dan tidak menyusuimu, sehingga Tuhan Allah menegur mamak dengan  penyakit kangker  payudara. Tapi mamak ikhlas mudah-mudahan penyakit ini bisa menebus dosa-dosa mamak.
Mamak mengerti kalau kau membenci mamak, karena mamak yang telah meninggalkanmu. Sehingga berapa kali mamak panggil kau untuk datang, tidak pernah kau penuhi panggilan mamak. Jadi mamak tulis surat ini dan dititip pada Azam.
Sebenarnya mamak panggil kau kesini ada yang mau mamak berikan untukmu, rekening mamak yang khusus mamak simpan untukmu, mudah-mudahan cukup untuk merintis usaha demi masa depanmu. Isinya memang tak seberapa, dan tidak juga bisa menebus rasa bersalah mamak, tapi mudah-mudahan bisa kau manfaatkan sebaik-baiknya.
Wassalam
Mamak
Ya Allah, maafkan aku. Dan terimalah amal baik mamak selagi hidup dan hapuskanlah semua dosa-dosanya. Amiin. Kulipat kembali surat mamak baik-baik.
Bandung,  Januari  2013
Daftar istilah : Baah = iya , Andi (Ndi) panggilan kehormatan kaum bangsawan bu



Buku Karya Ku


ini merupakan karya pertamaa saya bersama agency naskah RE Media Service.

mudah-mudahan dengan lahirnya buku ini memberi manfaat bagi para pembaca dan akan lahir juga buku-buku yang lain

Rabu, 25 Desember 2013

LORONG GELAP



Cerpen  : Yati Nurhayati
Aku berusaha berdiri diatas serpihan hati yang telah hancur, kucoba untuk bertahan walaupun nyawa terasa ditenggorokan, ya terasa ditenggorokan akupun tak bisa menariknya keluar, itulah yang membuatku lebih tersiksa, hidup segan matipun tak mau. Langkahku tertatih-tatih mengumpulkan kekuatan baru.
Tamparan-demi tamparan hinggap dipipiku,sampai tubuhku tersungkur keujung ranjang, aku rasakan ada cairan hangat yang mengalir dikeningku,  darah ya darah segar mengalir kepelipis. Aku mencoba untuk bertahan.
Jika bukan karena janin yang ada dirahimku ini, aku sudah pergi dari rumah sejak dulu. “Maafkan bapakmu nak, ibu harap kau tak dendam diperlakukan seperti ini oleh bapakmu.” Aku mengelus perutku yang semakin hari semakin besar.
Aku terkenang masa awal-awal perkenalanku dulu. Han begitu perhatian, tatapannya mampu menghilangkan galau dihati. Pada saat itu aku tak berpikir ada pria sebaik itu mau mengulurkan tangannya membawaku dari lorong kegelapan kedalam kehidupan yang cerah terang-benderang.
Lorong yang kini aku lalui tidak kalah gelap dengan lorong hitamku  di  masa lalu, lorong maksiat, lorong yang penuh dengan dosa, hanya kenikmatan sesaat yang aku rasakan.
Hingga aku bertemu dengan Han disebuah kereta api dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Entahlah aku tak tahu apakah penari malam layak disebut pekerjaan. Di sebuah hotel bintang lima aku menjadi penari eksotis yang gemulai, untuk memuaskan nafsu birahi para hidung belang yang jelalatan, para bandit dan bos-bos dengan perut buncit. Pertama memang aku risih menjadi penari dengan pakaian minim sekali dihadapan begitu banyak mata memandang. Tapi kehidupan memaksaku untuk bekerja sebagai penari, aku harus menghidupi keluarga, ayah yang kini sakit-sakitan dan ibu yang kian hari Nampak lebih tua dari usianya serta kedua adik yang masih sekolah. Orang tuaku hanya tahu kalau aku bekerja disebuah hotel, honorku setiap hari besar, lebih dari cukup untuk aku dan keluarga.
Semenjak pertemuan dikereta itu ada pertemuan kedua, ketiga, dan entah berapa kali aku bertemu dengannya disengaja maupun secara kebetulan bertemu.
Sebenarnya aku berusaha untuk menghindari pertemuan dengan Han, aku takut dia keccewa saat tahu pekerjaanku,    namun pertemuan demi pertemuan sulit sekali aku hindari. Hingga suatu hari Han mengikutiku dari belakang dan akhirnya hal yang paling aku takuti terjadi juga. Ya akhirnya Han tahu kalau aku seorang penari klub malam yang terkadang harus melayani laki-laki hidung belang melampiaskan nafsu binatangnya.
Malam itu ditengah hingar-bingarnya music klub malam lampu seperti biasa dipadamkan, dan tepat ditengah malam lampu dinyalakan kembali semua mata memandangku dengan penuh nafsu yang menggelora. Hanya ada sepasang mata yang menatapku penuh dengan kekecewaan dan mata itu tak a sing lagi bagiku. Ia adalah Han seorang laki-laki yang selama ini penuh perhatian terhadapku. Sepertinya hatikupun sama mengharapkannya, hingga aku sakit sekali tatkala ia mengetahui siapa aku sebenarnya. Ada perasaan takut yang menjalar. Ya takut kehilangannya.     
Aku berlari kebelakang panggung, menyelinap kekamar ganti. Penonton yang gaduh tak kupedulikan, begitu juga bosku yang marah-marah dengan insidenku hari ini. Ku lihat Han berusaha mengejarku, kuhentikan sebuah taxi, tak cukup lima menit aku sudah berada di dalam sebuah taxi. Han terus mengejarku dengan mobil tuanya. Tak mungkin aku main kejar-kejaran seperti ini terus, aku harus Tanya Han apa maksud ia mengikutiku terus. Ya aku harus menanyakannya.
“Pak berhenti !” Aku langsung membayar taxi. Mobil Han sudah ada dihadapanku, Han membukakan pintu. Aku pun masuk.
“ Kenapa kau mencari ku ? apa maksudmu selalu mengikutiku ?” “ tin aku ingin menikahi dengan mu.”
“ Aku hanya seorang penari. “ “ aku tidak peduli tin, yang penting kau mau meninggalkan pekerjaanmu itu.” Mata Han menatapku dengan tatapan teduh, kubalas tatapannya. Mata kami saling beradu pandang. “ sungguh kah ?” “ sungguh aku mencintai kamu Tin,” kupandang Han seolah-olah tak mau lepas dari tatapannya. “ Mimpikah aku ?” “ tidak kau tidak sedang bermimpi” bibir lembut Han menempel di bibirku. Aku tak kuasa menolak, di mobil tua itu ada sebuah kenangan indah bersama Han. Janin ini buahnya.
Harapanku hidup bahagia dengan Han pupus sudah, setelah menikah ia berubah drastis, tak ada tatapan matanya yang indah, yang mampu meluluhkan wanita manapun. Yang ada sorot matanya yang menakutkan. Sudah tak terhitung berapa tamparan yang hinggap dipipiku. Aku mengira ia seorang psikopat, sakit jiwa. Setiap kali berhubungan intim dia memulainya dengan kekerasan, hingga ia merasa puas tatkala melihatku tak berdaya.
Apa yang aku lakukan dimatanya selalu salah, tersenyum tidak tersenyum, bicara tidak bicara tidak ada bedanya dihadapan Han. Diam itulah satu-satunya jalan agar aku tak selalu disalahkan. Diam tak bergeming walau sakit kurasakan. Diam bungkam walau tubuh babak belur. Kepada siapa aku harus mengadu semua ini ?   orang tua ? pemerintah ? aku tak tahu harus kemana.
Batinku menjerit tatkala Han meragukan anak yang ada dirahimku, “ aku bersumpah ini adalah anakmu Han, darah daging mu!” aku berusaha meyakinkan ia, harapanku ia tak selalu menyiksaku jika tahu kalau anak ini anaknya. Tapi yang kudapat hanya bantingan pintu. Setelah itu aku tak tahu ia pergi kemana.
Semenjak peristiwa itu Han tak pernah pulang kerumah. Aku paham kalau tugasnya sebagai militer mengharuskan ia pindah dari kota-kekota, dikota inipun ia sedang bertugas hingga akhirnya menikah denganku. Habis masa tugasnya iapun akan pindah kekota lain. Aku sendiri tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya. ****
Galau kurasakan, kandunganku semakin hari semakin besar, tapi tak ada kabar dari Han. Biasanya ia selalu sempatkan nelpon atau SMS disela-sela tugasnya. Mungkin kali ini aku yang harus SMS. Aku tak mau bertaruh nyawa, melahirkan anak ini tanpa suami disampingku. Bagaimanapun ini adalah kelahiran anak pertamaku, aku merasa cemas dan takut.
“ Mas cepat pulang Ya !” send 08527158xxx. Suara ponselku berbunyi ternyata Han masih ingat buktinya ia telpon balik pikirku. “Hallo, Mas “ “ Siapa Ini ya ?” aku kaget suara wanita di seberang sana. “ Ibu siapa ?” aku balik bertanya. “ saya istrinya  Pak Burhan.” Kumatikan ponselku cepat. Seketika itu aku lemas antara sadar dan tak sadar, antara percaya dan tak percaya, kalau selama ini Han yang kukenal telah beristri.
Ponselku bergetar lagi, diiringi dengan bunyi rington yang dipilihkan Han. “ Ya Allah kuatkan hatiku !” aku beranikan untuk menjawabnya “ Hallo, ibu bisa nggak kalau kita ketemuan ?” kudengar suara wanita tadi di seberang sana, sepertinya wanita itu sudah curiga, kalau aku ada hubungan dengan suaminya. “ dimana ?” “ Katakan saja alamatnya saya akan kesana. “ ujar wanita itu.
Sesuai dengan kesepakatan akhirnya akupun bersedia bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai istrinya Han. Walaupun aku ragu, ini adalah jalan terbaik. Aku harus bicara sebagai sesama wanita, ia pun pasti akan mengerti. Kudengar dari gaya bicaranya istri Han orangnya baik. ***
Dua puluh dua tahun aku lalui, semenjak pertemuan dengan istri Han yang pertama aku tak pernah tahu kabar Han. Saat itu istri Han memohon kepadaku untuk tidak mencari lagi Han, dia menodongku dengan sejumlah uang asalkan aku pergi jauh dari kehidupannya. Demi keutuhan rumah tangganya aku rela, walaupun sakit kurasakan. Wanita mana yang rela untuk dimadu, begitu juga istrinya Han pikirku. Lebih baik aku yang mengalah, karena biar bagaimana aku tak punya kekuatan hokum, aku dinikahi secara siri, sedangkan dia nikah secara sah. Ini jalanku yang terbaik, aku ambil uangnya, jumlahnya cukup lumayan untuk modal membesarkan anak ini.
Aku tak mungkin melupakan Han, yang telah membawaku dari lorong gelap, yang telah memberiku malaikat kecil nan lucu. Ialah malaikat kecil itu yang telah menguatkan aku hingga hari ini. Aku tak mau lagi masuk kelorong gelap itu, aku ingin taubat, dan hidup normal bersama malaikat kecilku. Aku dengar dari ustad yang ceramah di mesjid dekat rumahku, kalau zinah itu membawa kesengsaraan yang berkepanjangan. Aku mengalaminya. Aku merasakannya. Aku tak mau lagi terjerumus untuk kedua kalinya.
Aku berusaha sekuat tenaga memberi kehidupan yang baik untuk Han kecilku, dengan membuka usaha catering aku bisa menyekolahkan Han kecil sampai ke perguruan tinggi. Han kecilku kini telah menjadi laki-laki dewasa. Pengusaha muda yang sukses, tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Aku bangga sekali  padanya, ia tumbuh sempurna walau tanpa ayah disampingnya. Akulah ayah sekaligus ibu baginya.
Hari ini Han kecilku  memperkenalkanku dengan calon istrinya, Sonya gadis yang cantik, aku tatap dari ujung rambut hingga ujung kaki. Han memang pandai memilih wanita. Dari tatapan keduanya mereka terlihat saling mencinta, tapi entah kenapa  semenjak kedatangannya kesini perasaanku tidak enak.
Tiba-tiba badanku terasa lemas, dan jantungku berdebar kencang, saat Sonya menyatakan kalau ayahnya bernama Burhanudin. Jangan-jangan … kutepis semua prasangka.” Bisa kulihat foto ayahmu?” “ tentu boleh tante!” sonya mengeluarkan dompet dan menyodorkan pas photo ukuran 4 x 6 kepadaku. Kepalaku mendadak pusing bagaimana aku menjelaskannya kepada Han kecil bahwa sebenarnya ia bersaudara sama Sonya. Aku jatuh tak sadarkan diri.
Rancaekek, Oktober 2012

Vivalog

Custom Search

banner