Rabu, 22 Juli 2015

Pengalaman Berjualan Online

Dulu Ketika saya mengemukakan ide untuk berjualan online banyak orang di sekitar saya mencibir seolah tak percaya dan menjatuhkan mental saya, mereka bilang bisnis online itu banyak penipuan, banyak yang gagal dan lain sebagainya. Tapi saya terus berusaha mencari peluang agar bisa berjualan tanpa modal.
Saya menggunakan sistem dropsip, artinya saya tidak stok barang dan packing. saya mulai bisnis ini sekitar tahun 2010. Semangat saya masih naik turun saat itu. karena pendapatan yang tidak menentu mungkin.
Saya terus tekuni bisnis ini dan terus belajar dari kesalahan. Saya berjualan di Fanpage Baju Koko Murah dan Tokopedia. 
Alhamdulillah dari berjualan dropsip saya mendapatkan keuntungan yang lumayan bagi ukuran saya, Sebelum bulan Ramadan saya mendapatkan laba rata-rata Rp 3 juta / bulan, sedangkan menjelang bulan Ramadan dan idul Fitri bisa meraup keuntungan 7- 8 Juta / bulan.
Satu persatu anggota keluarga mulai mengikuti bisnis yang saya jalani, pandangan mereka berubah. Saya juga tidak pelit untuk berbagi ilmu, dan tidak menjadikan mereka saingan walau pun berjualan barang yang sama. Toh kita memiliki rizki masing-masing. Saya tidak khawatir tertukar masalah rizki dari Allah. Ade saya, Ade Sepupu, Ade ipar, bahkan suami juga ikut menggeluti bisnis ini.
Tahun ini target saya ingin stok dan packing sendiri, kalau dalam sekolah naik tingkat, awalnya dropsip sekarang stok produk sendiri. Mudah-mudahan bisa teerwujud.    

Selasa, 07 Juli 2015

Salah Satu Buku Saya


  • Ukuran : 13 x 20 cm
  • Tebal : 146 halaman
  • Terbit : Juli 2015
  • Cover : Softcover
  • ISBN : 978-602-03-1833-2
  • No Produk : 615217005

Jumat, 10 April 2015

Resensi Novel Mahkota Cahaya Untuk Ayah Bunda

Judul buku : Mahkota Cahaya Untuk Ayah Bunda
Penulis : Fifa Dilla
Tahun terbit : Cetakan  pertama, Juni 2014
Penerbit : Noura Books
ISBN : 978-602-1306-26-0

Hafiz adalah seorang anak yatim piatu. Orang tuanya mengalami kecelakaan kapal ketika ia masih berumur 1 tahun. Setelah orang tuanya meninggal ia tinggal bersama kakeknya Ustad Alimudin.
Dibawah bimbingan sang kakek Hafiz ingin mewujudkan cita-cita orang tuanya agar ia menjadi penghapal Al Quran dan menjadi mahkota cahaya untuk ayah bundanya.  Namun dalam pelaksanaannya hafiz merasa iri dengan teman-temannya Mahmud, Nur, Riski dan jidan yang bisa mengenyam bangku pendidikan (Halaman 66). Terlebih ketika teman-temannya berdarma wisata ke Surabaya. Keinginannya untuk sekolah sangat besar, tapi kakek Alimudin tetap dengan pendiriannya kalau Hafiz harus khatam hapalan quran dulu baru boleh sekolah.
Seorang penghapal Al Quran dijamin hidupnya oleh Allah, dan semua ilmu ada dalam Al Quran jadi Hafiz tidak perlu sekolah, begitu menurut  Kakek Alimudin( Halaman 63). Hafiz tidak menerima begitu saja larangan sang kakek, ia terus berusaha agar ia juga bisa  sejajar dengan teman-temannya.
Diam-diam ia mengikuti pelajaran sekolah di bawah jendela.  Suatu hari ia ketahuan oleh Pak Japar sering menguping dibawah jendela. Pak Japar ingin sekali membantu Hafiz agar mendapat pendidikan seperti teman sebayanya. Ia berusaha untuk minta izin kepada Ustad Alimudin agar mengizinkan Hafiz untuk sekolah. Namun usahanya sia-sia, Ustad Alimudin tetap dalam pendiriannya. Akhirnya Pak Japar memberikan pelajaran tambahan diluar jam sekolah kepada Hafiz untuk belajar baca tulis.
Keinginan Hafiz untuk sekolah terwujud, karena. Kakek Alimudin ditahan polisi beliau disangka teroris. Awalya ia tak mengetahui kalau kepergian kakek  karena ia ditahan polisi, yang ia ketahui kalau kakeknya pergi ke kota kecamatan. Ia merasa bebas untuk pergi kesekolah dan belajar bersama teman-temannya. Setelah mengetahui kakeknya ditahan polisi Hafiz sangat terpukul terlebih teman-teman Hafiz dan warga sekitar menjauhinya. Para orang tua takut kalau anaknya bergaul dengan cucu teroris, langgar yang biasanya ramai oleh anak-anak kini menjadi sepi.
Hafiz sempat marah kepada Pak Japar, karena beliau lah kakeknya kini berada di penjara.  Pak Japar berkomuniksi lewat e-mail mengenai permasalahan pendidikan di pelosok,  dan membahas cara kakek Alimudin medidik cucunya. Email tersebut dibaca pihak lain, pada akhirnya kakek Alimudin diperiksa oleh Polisi.  
Kekhawatiran Hafiz terobati ketika  Kakek Alimudin pulang.   Terbukti kakek Alimudin bukan teroris dan hanya ada kesalahpahaman.  Kakek Alimudin hanya dimintai keterangan mengenai pondok pesantren yang dipimpin oleh Ustad Ba’bullah Asyri, tempat ia menimba ilmu agama. Kakek pulang dalam keadaan sakit, ia hanya bisa berbaring lemah. Tak lama kemudian beliau meninggal, sebelum menghantarkan Hafiz menjadi penghapal Al Quran.  
Tinggallah Hafiz sebatang kara, ia sangat menyesal telah sembunyi-sembunyi sekolah, dan bergulat dengan berbagai pertanyaan.  Seandainya aku hafal Al-Quran, benarkah Allah takkan membiarkanku sebatang kara? Benarkah itu berarti Kakek takkan meninggal dunia? Benarkah dengan menghafal Al-Quran, aku mempersembahkan mahkota cahaya untuk ayah dan bunda di surga? Rasa kehilangan yang mendalam terhadap kakeknya membuat kondisi Hafiz menjadi labil, bahkan ia merasa hapalan qurannya hilang.
Pada akhirnya ia bisa menghatamkan hapalannya sebanyak 30 juz (Halaman 244), berkat Pak Jafar seorang guru yang mendorong Hafiz untuk belajar dan menghatamkan Al Quran di pesantren Al habib yang berada di kota. Hafiz sang penghapal Quran telah menemukan berbagai keajaiban dari Al Quran, salah satunya selalu dimudahkan dalam setiap urusan yang dihadapinya.
Novel keluarga ini memberi banyak inspirasi bagi pembaca, tak salah jika Noura Book memilih jadi jawara dalam ajang Noura book Academy.  Penulis mampu meramu konflik yang sederhana.  Konflik batin pada diri Hafiz antara pentingnya belajar agama untuk mewujudkan cita-cita orang tua beserta kakeknya yaitu menjadi penghapal Al Quran serta keinginannya untuk belajar bersama teman-temannya dan keinginannya untuk menjadi dokter. 
Pada bab pertama penulis mampu membuat pembaca terharu dengan Kiamat Sugranya. Rasa penasaran untuk menuntaskan bacaan dan menyelami gaya bahasa penulis semakin besar. Hingga bab terakhirpun pembaca bisa menitikkan airmata tatkala Hafiz cilik mampu menemukan keajaiban Al Quran.  Memang betul bagusnya sebuah tulisan bukan karena ceritanya, tapi karena kelihaian penulis dalam meramu kata-kata.


Jumat, 13 Maret 2015

Belajar Meresensi Buku


Untuk Menuju Keberhasilan diperlukan usaha yang terus menerus
Cinta tidak memandang bulu, bisa hadir dihati dua insan yang sangat jauh berbeda status sosialnya, seperti cerita dalam novel  ini yang mengisahkan perjalanan seorang gadis anak dari mantan TKW dari Jawa dan seorang Residen Taiwan.  Pernikahannya tidak berlangsung lama, pada usia Ella 1 tahun orang tuanya bercerai, ibunya kembali ke Indonesia. Namun ada perjanjian tertulis bahwa pada saat uisa Ella sudah 17 tahun ia harus ikut ayahnya.  ( hal 148)
Demi mengejar cita-citanya Ela bersedia ikut ayahnya, ia berusaha untuk mendapatkan beasiswa disalah satu universitas  d Taiwan. Ibunya sangat mendukung, ia tidak ingin Ella bernasib sama seperti dirinya yang tidak berpendidikan. Tapi ibunya berpesan agar tidak menjalin cinta dengan orang Taiwan, ia juga tidak mau kejadian  yang menimpa dirinya terulang pada Ella. Harus berpisah dengan orang yang dicintainya. 
Ella Tan nama gadis itu, ia seeorang mahasiswa di  Universitas Nasional Taiwan. Karakternya selalu terburu-buru dan ceroboh, ia nyaris terlambat pada saat hari pertama pendaftaran di kampus ini, karena kecerobohannya  mensetting jam tangan. (Hal 140)
Ella tinggal dengan ayah yang pendiam  dan ibu  serta saudara tirinya yang kejam. Ia tidak diterima sebagai anggota keluarga baru, dan menjadi bahan pertengkaran dikeluarga tersebut.
Tapi itu tidak berlangsung lama karena Ayahnya mengizinkan untuk tinggal di apartemen  yang dekat dengan kampus. Dan  beruntung Ella mendapat teman-teman dikampus yang begitu mendukungnya. Ada Adrian yang membantunya ketika diawal-awal pendaftaran, ada kim Hae Yo seorang Korea yang menjadi teman baiknya. Dan beberapa teman yang sama-sama dari Indonesia.
Kim  Haeyo memiliki alasan  kenapa ia sangat baik kepada Ella, karena Ella mengingatkan ia kepada ibunya, Ella bagi Kim Haeyo merupakan sosok bijaksana yang terkesan cuek. Seperti almarhumah ibunya. Jika ia menyakiti hati Ella, hae Yo menganggap telah menyakiti orang yang paling disayanginya. Dan sebaliknya membuat Ella tersenyum,  sama artinya telah membahagiakan ibunya.  Hae Yo menemukan semua yang hilang beberapa tahun yang lalu. ( Hal 253)
Keceriaan mulai terlihat diwajah Ella, terutama ketika ia merasakan cinta kepada dosen muda di universitas tempat ia kuliah. Namun perasaan itu disimpannya dalam-dalam, karena ia tak mungkin melupakan pesan dari ibunya, terlebih lagi dosen muda yang bernama Marcel Yo itu sudah memiliki tambatan hati yaitu Miss Wang,  seorang gadis yang begitu sempurna dimata Ella. Tidak di sangka bahwa Kim  Hae Yo juga menyukai Miss Wang.

Ella Tan berusaha untuk membuat orang tuanya tidak kecewa,  dan untuk meraih  keberhasilan diperlukan usaha terus menerus  itu dirasakan oleh Ella. Bukan saja harus mengerjakan ini itu, tapi juga menempuh jalan untuk mencapai impiannya. (Hal 101)
Seiring dengan berjalannya waktu perasaan yang dulu tumbuh untuk Marcel Yo berubah tak lebih hanya perasaan terhadap dosen yang ia hormati.  Malahan perasaan cinta muncul pada seseorang yang ia anggap teman yaitu Kim Hae Yo, dan Kim HaeYo juga sama, kalau Ella lah yang selama ini begitu menyita perhatiannya.  Dan perasaannya pada Miss wang pupus setelah mengetahui kejelekannya.
Marcel Yo sangat baik pada Ella, tapi ia sebatas dosen dan mahasiswanya, alasan lainnya karena Hae Yo menitipkan Ella padanya, dan jangan sampai membuat Ella bersedih. 
Mimpi Ella mendapatkan kasih sayang dari ayahnya terwujud, Ayahnya selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Ella di apartemennya, untuk sekedar makan bersama. Bukan hanya itu, Ella mendapatkan fasilitas mewah di apartemennya yang membuat Ella merubah pandangannya terhadap ayah yang baru berjumpa dengannya.  
Kisah ini memang  klasik, dan ketika pertama membaca Nampak seperti cerita Cinderela. Namun penulis mampu  meramunya menjadi cerita yang menarik. Dan selamanya cerita cinta tidak akan pernah habis dimuka bumi ini.
Diresensi oleh : Yati Nurhayati

Judul buku : The Dream in Taipei City
Penulis : Mell Shaliha
Tahun terbit : Cetakan  pertama, Februari 2014
Penerbit : Indiva
ISBN : 978-602-1614-16-7


Rabu, 08 Oktober 2014

Pulau Tidung, Keindahan di Pulau Terpencil


Pernah dimuat Di Harian Umum Pikiran Rakyat
Awalnya tak menyangka ada kawasan yang indah dan alami tak jauh dari Jakarta. Itulah Pulau Tidung, pulau terbesar dalam gugusan di kepulauan seribu. Lokasinya berada di Teluk Jakarta. Terdiri dari dua bagian yaitu Pulau  Tidung Kecil dan Tidung Besar. Yang pertama kali dihuni adalah Pulau Tidung kecil, tapi karena jumlah penduduk terus bertambah, Pulau Tidung kecil saat ini tidak berpenghuni, dijadikan perkebunan Mangrove yang dikelola oleh pemerintah untuk menjaga keseimbangan alam.
Pembangunan di Pulau Tidung
baru dilaksanakan pada tahun 1984 dengan membangun sebuah mesjid.  Pasokan listrik menggunakan mesin diesel, baru pada tahun 2006 mendapat pasokan listrik 24 jam. 
Walaupun dekat dengan Jakarta, penduduk pertama disini bukan dari suku Betawi, menurut sejarah orang pertama Pulau Tidung adalah seorang seorang raja  Pandita dari Kalimantan Timur, nama pulau Tidung diambil dari nama sebuah suku  tempatnya berasal. Terdapat dua suku pertama yang menduduki Pulau Tidung, yaitu dari Kalimantan  bernama Raja Panditadan dari Banten yang bernama Ki Turuf. Keduanya adalah orang pertama hingga akhir hayatnya mendiami Pulau Tidung, hingga kini makamnya menjadi tempat wisata sejarah. 
Kini di Pulau Tidung berkembang beberapa etnis yaitu etnis Mandar Kalimantan, etnis Betawi, etnis Bugis, Etnis banten dan Madura. Mata pencaharian mereka adalah nelayan dan petani.
Transportasi ke Pulau Tidung hanya bisa dilalui dengan jalur laut,  berangkat dari Pelabuhan Muara Angke Jakarta Barat dengan menggunakan kapal motor tradisional selama 3 jam   atau kapal motor cepat (speedboat)  dari dermaga kapal Marina Ancol dengan lama perjalanan 1,5 jam.
Hamparan laut yang membiru dan deburan ombak menjadi suguhan pertama yang mengesankan.
Dari kejauhan Nampak dua daratan mungil yang terhubung dengan jembatan kayu. Kapal kami berlabuh di pelabuhan Betok, merupakan pelabuhan inti  di Pulau Tidung, tempat kapal-kapal bersandar.

Jembatan Cinta
Antara pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung kecil membentang jembatan sepanjang 1 km, jembatan ini dinamakan jembatan cinta, entah dari mana awal penamaan jembatan tersebut. Mitos yang beredar mengenai jembatan ini ada hubungannya dengan asmara, menurut cerita yang beredar jika pasangan melewati jembatan ini maka hubungannya akan langgeng, ada lagi cerita jika pasangan melompat dari jembatan ini hubungannya akan abadi hingga maut memisahkan.  Tak heran jika jembatan ini sering dipakai untuk melamar atau mengabadikan dengan foto pre wedding.
Terlepas dari kebenaran akan mitos tersebut, Pulau Tidung memang memiliki  keindahan eksotis,
Jembatan ini menjadi tempat favorit bagi para wisatawan, wisatawan bisa melihat sunrise dan sunset, biasanya anak-anak  masyarakat setempat menyajikan atraksi melompat ke laut. Pemandangan ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya dan keluarga.  Saat menyebrang ke Pulau Tidung kecil, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam bawah laut yang begitu indah. Terumbu karang dan berbagai macam ikan terlihat jelas dari atas jembatan.  Keindahan bawah laut Pulau Tidung tak kalah indah dengan taman laut Bunaken Sulawesi Utara ataupun kepualauan Raja Ampat Papua.   Pantai yang berada di awal jembatan adalah pantai Tanjongan Timur. Pantai yang aman karena tidak memiliki ombak besar.
Snorkling di pantai Tanjung Barat
 Pantai Tanjung Barat kurang dijamah oleh wisatawan, mungkin karena letaknya berada di ujung Pulau Tidung besar. Kita bisa bersepeda menuju ke Pantai Tanjung Barat ini. Dipantai ini juga kita bisa melihat sunset dan sunrise, namun kebanyakan pengunjung kepantai ini untuk Snorkling dan mancing.
Setelah menjelajahi taman bawah laut, tiba saatnya untuk mencicipi kulinernya, yaitu otak-otak, rasa otak-otak tak jauh berbeda dengan rasa otak-otak pada umumnya. Yang membedakan bentuk dan bumbu setiap pedagang berbeda-beda. Dingin-dingin lapar, enak sekali menyantap otak-otak.
Selama di Pulau Tidung  kita bisa istirahat di homestay yang telah disediakan oleh penduduk disana, di homestay ini tak ada fasilitas mewah. Karena wisata pulau Tidung memiliki konsep berbasis masyarakat. Sehingga pemanfaatan fasilitas yang ada akan kembali ke masyarakat. Belum ada investor yang mengelola lokasi wisata Pulau Tidung dalam skala besar. Untuk berkeliling pulau Kidung, masyarakat sekitar banyak yang menyewakan sepeda. Kitapun bisa dengan leluasa untuk berkeliling pulau Tidung Besar dan kecil. Di pulau Tidung kecil terdapat wisata tanaman, disini terdapat sederetan pohon mangrove dan kelapa.  Kita juga bisa berwisata sejarah, yaitu mengunjungi makam panglima hitam dan Raja Pandita, selain itu wisata sejarah juga dikemas dengan menginformasikan asal-usul Pulau Tidung.  Kehidupan masyarakat nelayan Pulau Tidung turut memberi keunikan tersendiri bagi tempat wisata di Jakarta Utara ini. Karena tempat wisata ini sangat alami dan berbasis masyarakat, sebaliknya dengan Pulau bidadari yang masih  berada di gugusan kepulauan seribu  yang membangun resort mewah untuk menarik wisatawan.
Waktu liburan telah habis, saya dan rombongan bersiap untuk kembali ke Bandung, dan berharap suatu hari nanti bisa menikmati keindahan Pulau ini lagi. Ada  satu lagi makanan khas Pulau Tidung yang jangan dilewatkan yaitu keripik sukun, saya membeli untuk cemilan di bis dan oleh-oleh untuk dibawa kerumah. 

Minggu, 31 Agustus 2014

Resensi Buku



Judul Buku :
Jangan Kuliah Kalau Nggak Sukses
Penulis :
Setia Furqon Kholid
Penerbit :
Rumah Karya
Cetakan :
Ketujuh, 2012
Tebal :
160 halaman ; 20 x 13 cm
Jangan Kuliah Kalau Nggak Sukses
Tidak semua oang bisa menikmati bangku kuliah menjadi mahasiswa, bahkan di Indonesia persentase yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi rendah sekali. Oleh sebab itu bagi mahasiswa ada tantangan tersendiri, bahwa orang kuliah itu harus sukses.  Yang tidak kuliah saja bisa sukses, apalagi yang kuliah. Mungkin begitu anggapan kebanyakan orang.
Ada banyak orang kuliah hanya sekedar datang, duduk dan diam saja dikampusnya. Nongkrong dan wara-wiri tak jelas tujuan. Masuk kuliah, pulang kuliah, makan, minum, tidur, menghayal, hura-hura, begadang tidak karuan,  nyusahin orang tua dan masih banyak lagi kesia-siaan yang dilakukan. 
Adapula mahasiswa yang kuliahnya rajin sekali, semua waktu tercurah hanya untuk semua yang berhubungan dengan prestasi akdemik yang ia cita-citakan. Akibatnya jadi kuper, kikuk, kaku dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Tidak pernah berorganisasi dikampus, kegiatan diluar kampus jarang ikut, bahkan tidak sama sekali. Ia mendapat cumlaude, namun tak bisa bergaul.
Ada juga yang aktif diorganisasi, hampir tidak ada waktu untuk mata kuliah, apalagi ngerjain tugas, walhasil nilainya keteteran dan menjadi mahasiswa abadi, perbaikan sana-sini, teman seangkatan sudah pada lulus, ia masih berkutat dengan perbaikan nilai.
Yang lebih tragis, tidak aktif diorganisasi kampus, nilai akademis yang diraih gak bagus, bahkan dibawah rata-rata. Jadi seperti apa mahasiswa yang diharapkan itu  ?
Mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang mampu mensinergikan segala potensi yang Allah titipkan padanya. Mahasiswa yang tidak semata-mata mengejar target nilai saja, namun mampu menjadi pribadi mulia dengan kekuatan akhlaknya, mandiri dan tentunya berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Begitulah  cita-cita buku yang ditulis oleh Setia Furqon Kholid, yang berjudul “ Jangan Kuliah Kalau nggak Sukses” ini.
Semua mahasiswa pasti ingin sukses, tapi banyak yang tidak tahu seperti apa menwujudkannya. Akhirnya pasrah, dan berjalan seperti air mengalir, yang penting kuliah, dapat gelar, cari kerja. Cari kerja susah, akhirnya putus asa.
Dalam buku motivasi ini kita diajak untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, mahsiswa yang berwirausaha, aktif diorganisasi, nilai akademis memuaskan. Ini bukan hal yang mustahil.  
Buku ini memaparkan rahasia yang membuat beberapa mahasiswa dapat sukses disemua peran kehidupannya. Yang mempunyai success habits yang meliputi cara berpikir, cara merasa dan cara bersikap tertentu hingga terkristalisasi menjadi success character.
            Menurut buku ini setidaknya ada lima pondasi dasar yang menyokong kesuksesan, yaitu kekuatan spiritual (spiritual Power) yang membuatnya tetap berada dipuncak kesuksesan sejati. Kekuatan emosional (Emotional Power) yang menjadikannya mampu beradaptasi dengan diri dan lingkungannya, kekuatan financial ( Financial Power) yang mmepertahankan izzah (kehormatan dirinya), kekuatan intelektual (intellectual Power) yang mendasari setiap keputusan, dan kekuatan aksi (Action Power), yang menjadikannya seorang pemenang bukan pecundang, pemimpin bukan pemimpi.
            Lima pondsi dasar inilah yang menjadi bahan baku kesuksesan mereka. Dengan mengelola energinya secara tepat dan seimbang untuk setiap peran kehidupannya, ia mampu sukses dibidang apapun yang ia ambil.
            Dengan bahasa yang lugas dan tidak menggurui, buku ini akan memberikan tips jitu bagaimana menjadi mahasiswa yang bukan hanya sukses dibidang akademis, tetapi juga mendapatkan pengalaman organisasi, mampu mandiri dan mengatur keuangan pribadi, juga strategi ampuh mendapatkan beasiswa. 

Senin, 25 Agustus 2014

Mensiasati Kebutuhan dapur saat Ramadan dan Lebaran



Sejumlah harga bahan-bahan pokok naik, hal ini sudah  menjadi tradisi pada saat Ramadan dan menjelang lebaran.  Apalagi tahun ini berbarengan dengan kebutuhan sekolah anak-anak. Tentu sebagai ibu rumah tangga harus pintar-pintar mensiasati keadaan ini, agar tidak mengalami defisit dan membengkaknya hutang pada pasca lebaran. Jangan mentang-mentang tinggal gesek kartu kredit, lalu anda berbelanja tanpa perhitungan.
Ironisnya  kebutuhan dapur pada Ramadan bisa 3kali lipat bulan-bulan lainnya. Padahal  makan yang biasanya 3 kali  hanya dua kali, hal ini dikarenakan  perubahan pola makan dan gaya hidup selama Ramadan. Pada saat berbuka, lauk pauk tidak hanya satu atau dua macam. Dan kebutuhan makanan pembuka puasa seperti kolak, sirup dan lain-lainpun tak bisa kita hindari.
Untuk para ibu rumah tangga sebagai  pengatur keuangan keluarga harus pintar mensiasati kebutuhan dapur yang membengkak. Caranya yaitu dengan mengkalkulasikan kebutuhan dapur saat Ramadan dan lebaran. Simpan uang dalam amplop yang berbeda  untuk setiap minggunya dan jangan disatukan dengan uang lainnya. Disaat uang diamplop mingguan sudah menipis, berhematlah dengan cara mengurangi menu atau mengganti menu dengan kualitas gizi yang sama. Seperti untuk kebutuhan protein keluarga, biasanya dengan daging diganti tahu tempe.  Seorang ibu juga harus bisa menahan untuk tidak membeli makanan yang tidak akan termakan dan akhirnya mubazir.
Jika memiliki tabungan, belilah kebutuhan Ramadan dan lebaran jauh hari sebelum harinya. Seperti  mencicil kebutuhan pakaian dan kue-kue. Atau kebutuhan pokok yang awet dan tahan lama, seperti beras, gula dan minyak, biasanya harga lebih murah dan untuk mengurangi beban pengeluaran di bulan Ramadan. Tapi jangan lupa mengganti tabungannya ketika mendapat tunjangan hari raya.
Bagi ibu rumah tangga juga harus cermat memilih tempat belanja yang lebih murah dengan kualitas yang sama. 

Vivalog

Custom Search

banner