Minggu, 31 Agustus 2014

Resensi Buku



Judul Buku :
Jangan Kuliah Kalau Nggak Sukses
Penulis :
Setia Furqon Kholid
Penerbit :
Rumah Karya
Cetakan :
Ketujuh, 2012
Tebal :
160 halaman ; 20 x 13 cm
Jangan Kuliah Kalau Nggak Sukses
Tidak semua oang bisa menikmati bangku kuliah menjadi mahasiswa, bahkan di Indonesia persentase yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi rendah sekali. Oleh sebab itu bagi mahasiswa ada tantangan tersendiri, bahwa orang kuliah itu harus sukses.  Yang tidak kuliah saja bisa sukses, apalagi yang kuliah. Mungkin begitu anggapan kebanyakan orang.
Ada banyak orang kuliah hanya sekedar datang, duduk dan diam saja dikampusnya. Nongkrong dan wara-wiri tak jelas tujuan. Masuk kuliah, pulang kuliah, makan, minum, tidur, menghayal, hura-hura, begadang tidak karuan,  nyusahin orang tua dan masih banyak lagi kesia-siaan yang dilakukan. 
Adapula mahasiswa yang kuliahnya rajin sekali, semua waktu tercurah hanya untuk semua yang berhubungan dengan prestasi akdemik yang ia cita-citakan. Akibatnya jadi kuper, kikuk, kaku dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Tidak pernah berorganisasi dikampus, kegiatan diluar kampus jarang ikut, bahkan tidak sama sekali. Ia mendapat cumlaude, namun tak bisa bergaul.
Ada juga yang aktif diorganisasi, hampir tidak ada waktu untuk mata kuliah, apalagi ngerjain tugas, walhasil nilainya keteteran dan menjadi mahasiswa abadi, perbaikan sana-sini, teman seangkatan sudah pada lulus, ia masih berkutat dengan perbaikan nilai.
Yang lebih tragis, tidak aktif diorganisasi kampus, nilai akademis yang diraih gak bagus, bahkan dibawah rata-rata. Jadi seperti apa mahasiswa yang diharapkan itu  ?
Mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang mampu mensinergikan segala potensi yang Allah titipkan padanya. Mahasiswa yang tidak semata-mata mengejar target nilai saja, namun mampu menjadi pribadi mulia dengan kekuatan akhlaknya, mandiri dan tentunya berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Begitulah  cita-cita buku yang ditulis oleh Setia Furqon Kholid, yang berjudul “ Jangan Kuliah Kalau nggak Sukses” ini.
Semua mahasiswa pasti ingin sukses, tapi banyak yang tidak tahu seperti apa menwujudkannya. Akhirnya pasrah, dan berjalan seperti air mengalir, yang penting kuliah, dapat gelar, cari kerja. Cari kerja susah, akhirnya putus asa.
Dalam buku motivasi ini kita diajak untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, mahsiswa yang berwirausaha, aktif diorganisasi, nilai akademis memuaskan. Ini bukan hal yang mustahil.  
Buku ini memaparkan rahasia yang membuat beberapa mahasiswa dapat sukses disemua peran kehidupannya. Yang mempunyai success habits yang meliputi cara berpikir, cara merasa dan cara bersikap tertentu hingga terkristalisasi menjadi success character.
            Menurut buku ini setidaknya ada lima pondasi dasar yang menyokong kesuksesan, yaitu kekuatan spiritual (spiritual Power) yang membuatnya tetap berada dipuncak kesuksesan sejati. Kekuatan emosional (Emotional Power) yang menjadikannya mampu beradaptasi dengan diri dan lingkungannya, kekuatan financial ( Financial Power) yang mmepertahankan izzah (kehormatan dirinya), kekuatan intelektual (intellectual Power) yang mendasari setiap keputusan, dan kekuatan aksi (Action Power), yang menjadikannya seorang pemenang bukan pecundang, pemimpin bukan pemimpi.
            Lima pondsi dasar inilah yang menjadi bahan baku kesuksesan mereka. Dengan mengelola energinya secara tepat dan seimbang untuk setiap peran kehidupannya, ia mampu sukses dibidang apapun yang ia ambil.
            Dengan bahasa yang lugas dan tidak menggurui, buku ini akan memberikan tips jitu bagaimana menjadi mahasiswa yang bukan hanya sukses dibidang akademis, tetapi juga mendapatkan pengalaman organisasi, mampu mandiri dan mengatur keuangan pribadi, juga strategi ampuh mendapatkan beasiswa. 

Senin, 25 Agustus 2014

Mensiasati Kebutuhan dapur saat Ramadan dan Lebaran



Sejumlah harga bahan-bahan pokok naik, hal ini sudah  menjadi tradisi pada saat Ramadan dan menjelang lebaran.  Apalagi tahun ini berbarengan dengan kebutuhan sekolah anak-anak. Tentu sebagai ibu rumah tangga harus pintar-pintar mensiasati keadaan ini, agar tidak mengalami defisit dan membengkaknya hutang pada pasca lebaran. Jangan mentang-mentang tinggal gesek kartu kredit, lalu anda berbelanja tanpa perhitungan.
Ironisnya  kebutuhan dapur pada Ramadan bisa 3kali lipat bulan-bulan lainnya. Padahal  makan yang biasanya 3 kali  hanya dua kali, hal ini dikarenakan  perubahan pola makan dan gaya hidup selama Ramadan. Pada saat berbuka, lauk pauk tidak hanya satu atau dua macam. Dan kebutuhan makanan pembuka puasa seperti kolak, sirup dan lain-lainpun tak bisa kita hindari.
Untuk para ibu rumah tangga sebagai  pengatur keuangan keluarga harus pintar mensiasati kebutuhan dapur yang membengkak. Caranya yaitu dengan mengkalkulasikan kebutuhan dapur saat Ramadan dan lebaran. Simpan uang dalam amplop yang berbeda  untuk setiap minggunya dan jangan disatukan dengan uang lainnya. Disaat uang diamplop mingguan sudah menipis, berhematlah dengan cara mengurangi menu atau mengganti menu dengan kualitas gizi yang sama. Seperti untuk kebutuhan protein keluarga, biasanya dengan daging diganti tahu tempe.  Seorang ibu juga harus bisa menahan untuk tidak membeli makanan yang tidak akan termakan dan akhirnya mubazir.
Jika memiliki tabungan, belilah kebutuhan Ramadan dan lebaran jauh hari sebelum harinya. Seperti  mencicil kebutuhan pakaian dan kue-kue. Atau kebutuhan pokok yang awet dan tahan lama, seperti beras, gula dan minyak, biasanya harga lebih murah dan untuk mengurangi beban pengeluaran di bulan Ramadan. Tapi jangan lupa mengganti tabungannya ketika mendapat tunjangan hari raya.
Bagi ibu rumah tangga juga harus cermat memilih tempat belanja yang lebih murah dengan kualitas yang sama. 

Selasa, 05 Agustus 2014

Resensi


Resensi dimuat di Koran Jakarta tanggal 21 Mei 2014

7 Kesalahan fatal bagi pengusaha
Banyak orang yang ingin menjadi pengusaha, karena menjadi pengusaha anda bisa memiliki kebebasan, yaitu bebas waktu dan bebas uang. Tapi sayang jadi pengusaha itu tidak gampang. Jadi pengusaha ada ilmunya jangan hanya sekedar Action, karena asal action hanya akan membuat gagal.
Menjadi pengusaha jangan hanya ikut-ikutan, harus menjadi pilihan karena kita benar-benar ingin menjadi pengusaha, bukan karena terkompori apalagi karena kepepet. “menjadi pengusaha adalah pilihan, bukan pelarian apalagi balas dendam” (Halaman. 43)
Fakta dilapangan bahwa 50 % bisnis bangkrut pada tahun ke – 1, 80 % bisnis bangkrut pada tahun ke 5 dan 96 % bisnis bangkrut pada tahun ke 10. ( Halaman.40)
Membangun bisnis yang bisa bertahan dalam jangka panjang dan sukses membutuhkan mental untuk action yang diikuti dengan strategi marketing, oprasional, SDM dan keuangan.
Dalam buku 7 kesalahan fatal pengusaha pemula karya Dewa Eka prayoga dituliskan kisah nya sendiri sebagai pengusaha, dengan maksud agar pengusaha pemula tidak jatuh pada lubang yang sama.
Menurut Dewa Eka Prayoga 7 kesalahan pengusaha adalah Asal Action, ikut-ikutan, gampang percaya, ingin cepat, banyak gaya, mudah hutang dan buta finansial.
Banyak pembisnis tidak sabar dan ingin cepat kaya, pada akhirnya mereka tidak menikmati proses, sedangkan jadi pengusaha itu adalah proses, dan proses itu bertahap. Dalam dunia bisnis tak adta jalan pintas, dan instan. Semua harus sesuai aturan dan satu demi satu diselesaikan. Tak bisa dicapai hanya dalam hitungan bulan.
“Segala sesuatu yang diraih dengan cepat akan berakhir dengan cepat” ( halaman. 58)
Saat pertama kali buka bisnis sebaiknya Anda terjun langsung kelapangan, agar tahu seluk beluknya, sehingga ketika nanti melakukan sistemasi akan mudah karena sudah merasakan. Kesalahan para pengusaha pemula biasanya ingin segera merekrut karyawan dan segala tugas diserahkan kepada karyawan.
Memang berbisnis merupakan aktivitas untuk mencari harta dan kekayaan, namun bila keinginan tersebut menggebu-gebu tanpa adanya kesabaran akn berdampak buruk. Saat mengalami masa paceklik dibutukan kesabaran untuk mengelolanya. ( halaman. 60)
Kesalahan Pengusaha pemula yang sering terjadi karena ia mendahulukan gaya, tidak peduli itu uang perusahaan ia pakai untuk kepentingan pribadi. Karena merasa sukses ia merubah gaya hidup dengan serba mewah, mobil mewah, rumah mewah dan sebagainya. Biasanya orang seperti ini ingin kelihatan kaya dan sukses, dan terkadang diiringi dengan sifat sombong.  Sayangnya uang yang digunakan untuk membeli kemewahan adalah uang perusahaan.
Sifat sombong adalah awal dari kehancuran bisnis, karena Allah paling tidak suka orang sombong, yang harus sombong itu hanya Allah pemilik semua harta, kita hanya dititipi oleh –Nya.
Kesalahan lainnya adalah buta finansial, cirri-ciri orang yang buta finansial adalah salah mendefinisikan uang, tidak memiliki definisi yang jelas tentang bebas finansial, tidak paham istilah keuangan, tidak bisa membuat laporan keuangan, mencampuradukkan keuangan pribadi dan bisnis, salah kelola asset dan kewajiban, salah mindset tentang omset, tidak paham pentingnya cashflow. (Halaman. 99)
Satu dari lima alas an utama orang ingin menjadi pengusaha adalah  karena ingin mencapai bebas finansial. Kalau jadi karyawan  uang yang didapatkan sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. Tapi jika jadi pengusaha bepeluang untuk mencapai bebas finansial, walaupun pada kenyataannya banyak juga pengusaha yang mengalami kemerosotan finansial alias bangkrut.
Definisi bebas finansial adalah ketika bisnis jalan, kitanya jalan-jalan. Namun kondisi tersebut tak semudah yang dikatakan. (halaman 102)
Bebas finansial tak mungkin bisa tercapai jika kita hanya sekedar main-main dalam bisnis, banyak santai dan tidak berjuang sungguh-sungguh, bebas finansial hanya bisa tercapai jika kita  kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.
Buku ini bagus bagi anda yang baru mulai membuka usaha atau yang sudah berjalan untuk mencegah kebangkrutan sejak dini. Tanpa menggurui Dewa Eka Prayoga telah mengemas pengalaman pribadinya dalam  buku ini.

Diresensi oleh : Yati Nurhayati, Alumni Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung.

Judul buku : 7 kesalahan Fatal pengusaha pemula
Penulis : Dewa Eka prayoga
Tahun terbit : Cetakan  pertama, Juli 2013
Penerbit : Delta Saputra
ISBN : 978-602-99999-1-4

Jumat, 30 Mei 2014

Carpon : Nu Ngulutrak Tengah peuting


kantos medal di Tribun jabar Mei 2014
                                                           Carpon ku Yati Nurhayati
Panto ngulutrak tengah peuting, pasti  apa karek datang. Meh Unggal poe   apa datang tengah peuting bari kaayaan bau alkohol. Sainget kuring  apa tara boga pagawean nu netep, ceuk  apa mah bisnis  ngan duka teuing bisnis naon da can pernah untung.  Nu puguh mah pagawean apa teh ngan ukur namprak ka pamajikan.
Sapopoe apa  ngurus motor  kameumeutna nu geus  kolot. Di usap dielap nepika herang mencrang. Isuk- isuk mun can aya cikopi can waka cengkat tina kasur,  sakapeung kuring sok keuheul kana kalakuan bapa, komo lamun geus sagala di alungkeun, gelas jeung piring  ngararapung  mun keur ambek ka pamajikan.
Kuring jeung  ifan lanceuk kuring geus  teu aneh lalajo bapa nyiksa nu jadi indung. Sok nyarempod we dijuru bakat kusieun.  Eta basa kuring jeung  ifan leutik keneh,  Ifans  geus  rumaja mah paling nyingkah mun  bapa keur parerea  omong teh.  
Pernah hiji waktu Ifan  nitah papirak ka indung kuring, “ Mah Saumur-umur dinyenyeri wae ku si Apa, naha Mamah rido ? Ayena mah gugat cerai we, da Mamah mah guru,  boga gaji ieuh,  Ifan geus gawe tinggal ngabiayaan hiji deui, ku Ifan oge pasti dibantuan biaya kuliah Etti mah.” Mamah ngan saukur jempe. “ Lain masalah biaya, tibaheula oge jarang di nafkahan.”  
Mamah sok mindeng leungit duit, nya tara nyalahkeun sasaha deui, da nu sok wani nyokot barang baturmah iwal ti apa, cengcelengan kuring oge mindeng aya tapak ngabobol. Siga basa kuring masih keneh SD kelas 6, duit jajan anu diirit ku Mamah unggal poe disesakeun, tidituna hayang milu piknik disakola pas perpisahan. Karunya  ari kudu ngandelkeun Mamah mah.  
Unggal balik sakola cengcelengan teh dieusian  aya sarebu atawa dua rebu, kuring beuki sumanget  ngeusian basa wali kelas ngumumkeun deui piknik teh jadi na ka Jogja. Kuring teh geus lila hyang kaditu lain ngan saukur ceuk beja kaajaiban dunia candi Borobudur anu kasohor ka mancanagara.  
Dina hiji poe kuring rek muka cengcelengan, ongkohna bendahara kelas nagih wae, anu rek milu piknik kudu manjer heula  lima puluh persen, ameh puguh sabaraha urangna nu rek  milu, puguh re nyewa beus sabaraha. Ari kitu namah kaharti ku kuring oge, da jadwalna ngan saukur sabulan deui. Pihak sakola embung rugi, hanas nyarter mobil, ari nu milu saeutik.
Ku kuring dijanjikeun ka isukan mayar ka bendahara kelas. Na ari kuring balik ti sakola kamar teh geus acak-acakan, buku jeung baju tina lomari pabalatak luhur dipan. Nu kacida handeueulna cengcelengan nu geus tapak  nyebet handapna, da cengcelengan plastic jadi babari, ari ku kuring di dikoclak-koclak  meni hampang, sihoreng kosong.  Kuring nepika  gering sababaraha poe teu sakola.
Hiji deui kabiasaan apa, sok nganjuk rokok   jeung kopi, bari tara mayar. Mamah sok sering aya nu nagih tukang warung, sakapeung sok era lamun aya nu nagih bari awong-awongan nyarekan apa. Ku mamah  sok enggal disampeurkeun bari sasadu, biasana mamah sok ngajanjikeun ke awal sasih bade di lunasan.
Ari inget kajadian  sabaraha  taun katukang  sok nyesek kana dada, tapi kuring teu bisa kukumaha. Anu osok ngalawan jeung nentang sagala kalakuan bapa mah lanceuk kuring Ifan.  Pernah ifan  di tampiling di hareupeun kuring jeung Mamah.  Harita Ifan ngahalangan apa anu rek nenggeul  ka Mamah.
“Pa bunuh we Ifan teh sakalian.” Sora Ifan  anu emosi bari ngasongkeun peso nu aya diluhur meja. Kuring sieun  Apa kaasupan jurig. terus aya salah sahiji nu tewas.  tapi diluar dugaan apa malah ngaleos ka luar. Alhamdulillah kuring  ngusap dada.
Aya deui  kajadian anu  hese  mopohokeunana, harita kuring  karek kelas 1 SMP  , Ifan kelas 3 SMP diimah kuring harita aya Bi Tati, adi Mamah anu karek kaluar sakola niatna rek cicing di imah kuring       bari neangan gawe, indung kuring kacida atoheunana, aya nu mantuan pagawean diimah, nyeuseuh jeung ngumbah wadah.
Kuring inget keneh poena  poe senen, da  harita kuring kabeurangan jadi teu milu upacara. Naha hate teh bet hoream kasakola. Keur mah rada teu ngareunah awak. Atuh kuring  bolos sakola, tapi moal waka ka imah da apa pasti aya keneh, hoream nyieun alesan lamun di Tanya. Antukna kuring ulin heula di alun-alun.  Da kuring teu biasa bolos, jadi meni asa teu paruguh, loba kasieun. Sieun aya nu ningali yen kuring ulin make saragam keneh, terus dilaporken ka sakola, sieun panggih jeung guru, jeung rea deui kasieun kuring.
Antukna jam salapan oge kuring mutusken balik ka imah, diimah mah moal aya nu ningalieun kuring teu sakola. Da Mamah ka sakola, Ifan oge sakola, apa wayah kieumah biasana geus kaluar jeung motor antikna. Ari bi Tati sok rajeun ulin ka tatangga ngagosip bari silih siaran.
Turun tina angkot kuring langsung, mukakeun panto gerbang nu teu di konci. Terus panto hareup ku kuring di dorong,  kuring heran sarua teu di konci, langsung kuring kadapur, teu aya curiga nanaon. Basa ngaliwat ka kamar bi Tati, aya sora ti jero kamar.
Panasaran kuring ngintip tina lawang konci, enya oge kuring leutik keneh, tapi kuring ngarti da geus SMP. Nu katingali ku kuring apa keur numpakan bi Tati. Kuring teu ngarti naha jol hayang ceurik, inget ka Mamah. Naha asa aya nu nyelekit kana hate ningali kalakuan apa.
Leuwih nyeri tibatan ningali Mamah di siksa, leuwih nyeri basa ningali Ifan ditampiling, leuwih nyeri basa lengit duit. Naha pedah kuring sarua awewe, asa di khianatan.
Kuring teu tulus kadapur, tuluy ka kamar bari panto digubrakkeun. Da kamar kuring teu jauh ti kamar Bi Tati, kuring ceurik. Apa nyamperkeun ka kamar. Tapi kuring teu bisa kedal kaambek teh. Disamperkeun ku Apa, kuring beuki narikan. “Hampura apa, khilap. Kade ulah bebeja ka indung maneh.”
Isukna  Bi Tati amitan, Mamah rada heran, naha meni ngadadak rek balik. Tapi antukna di izinan oge da Bi Tati maksa. Ti harita kuring tara patanya jeung  Apa, enya oge kuring karek 14 tahun, kuring ngarti apa geus hianat ka Mamah.
Mun kaparengan aya apa, kuring langsung ka luar, mun kuring keur nyarita terus aya apa langsung jep  jempe. Sabaraha kali Mamah ngelingan, yen kuring tong ngamusuhan ka apa, malah Mamah kungsi nyeleksek aya naon, naha sikep kuring jadi barubah.
Hayang teh nyarita ka Mamah, kunaon kuring judes ka apa, hayang  numpahkeun rasa anu ngaganjel dina hate. Tapi teu wasa, keur mah Mamah can pernah disenangkeun tambah mun apal apa salingkuh jeung adi patuturun hulu.  Bae ngan kuring wungkul nu nyeri, Mamah tong nepika nyaho kalakuan apa nu hiji ieu. Cukup Mamah nyaho yen apa sok mabok, cukup Mamah nyaho yen apa sok maok duit balanja, cukup Mamah nyaho apa sok ngabobol cengcelengan kuring jeung Ifan, cukup mamah nyaho yen apa   sok nganjuk rokok diwarung
Waktu terus nyerelek,   kuring can bisa mopohokeun kajadian eta, da sabaraha kali lebaran oge kuring can pernah sasalaman deui jeung apa.  Kuring oge can panggih deui jeung Bi tati, terakhir  manggih beja yen Bi tati TKW ka  arab Saudi. Nepika danget ayena bi Tati can nikah, manehna ngarasa prustasi, kulantaran geus di nodaan kasucianana.
Sakapeung kuring sok ngarasa dosa, ngabaeudan kanu jadi kolot mangtaun-taun. Sakapeung sok hayang nyuuh dina lahunanana menta dihampura,  da ningali waruganamah kuring teu tega. Tapi naha apa teu hayang menta dihampura ka Mamah anu kungsi dikhianatan.
Eta karek semet kahayang, mun paamprok jonghok mah sok kabayang wae kajadian harita, antukna niat hayang menta dihampura teh tara jadi wae.
Kuring ayena kuliah malahan tereh rengse, ari Ifan mah milih neangan gawe kaluar ti SMA teh. Ari kahayang Mamah mah Ifan oge kuliah, tapi Ifan teu minat neruskeun sakola, haying ngala duit mantuan Mamah pokna.
Mamah oge teu bisa maksa, da kuliah mah biayana lain saeutik, jadi lamun motivasina ti a wal kurang, bisi pegat dijalan.  Salian Mamah nu ngabiayaan kuring, Ifan oge mindeng mantuan, Ifan ngadukung pisan kuring kuliah,kuring jadi harepan Mamah jeung Ifan.
Balik  ti kampus geus burit, da aya acara di fakultas, siga biasa   kuring tara loba nyarita. Sanggeus  sholat  isya kuring muru bantal jeung kasur , acara  TV teu bisa ngelehkeun  rasa tunduh anu kacida  .  Teu kungsi lila kuring geus teu  inget di bumi alam.  
Bakating kutunduh  nepika teu apal aya nu nyelenep asup ka kamar.  Sadar-sadar basa aya nu nindihan beurat kana awak.  Gancang ku kuring di suntrungkeun bari  reuwas jeung sieun kacida.  Sihoreng  Apa. Tapi kukuring dilawan kalah beuki buringas. Sakuatna oge tanaga awewe, ngalawan anu keur kasetanan.  
Apa geus ngancurkeun hareupan Mamah jeung Ifan.  Nya hareupan kuring oge.  Kuring bingung  ngajawab naon lamun Mamah nanya anak saha nu aya dina rahim kuring. Kuring oge bingung Apa bakal jadi bapa sakaligus aki.

Rancaekek, Maret 2014

Jumat, 23 Mei 2014

Cernak : Gerobak sampah

Cerita anak ini dimuat di majalah Girls edisi no. 20 tanggal 7 Mei 2014. karena banyak yang nanya bagaimana cara mengirim ke majalah ini, aku posting saja disini. mengenai ketentuannya hampir sama seperti cerita anak yang lain, hanya saja mungkin yang sesuai dengan anak perempuan usia SD. cernak dikirimkan ke : girls@gramedia-majalah.com.
ini adalah cerita asli, walaupun mungkin ada editan redaksi.


Gerobak Sampah Mang Ano
Cerpen anak : Yati Nurhayati
Silvi menutup hidung setiap kali gerobak sampah Mang Ano lewat, pasalnya gerobak ini mengeluarkan bau kurang sedap.
” Mang Ano kalau ngambil sampah kesini  jangan sore-sore !” Teriak Silvi pada Mang Ano yang lagi mengambil keresek sampah didepan rumahnya. “ Jadi kapan Neng, kan emang harus keliling dulu, disini kebagian sore.”  “Ya terserah  pokoknya jangan sore-sore, kalau sore   waktunya saya lagi dirumah, gerobak Mang Ano bau banget.” “ Baiklah Neng nanti Mang pikirkan waktu yang tepat.” Mang Ano    pergi kerumah yang lainnnya.
Untuk hari-hari berikutnya Mang Ano mengambil sampah  mulai magrib hingga tengah malam baru selesai, semua pekerjaannya ia lakukan dengan rasa senang dan tanpa mengeluh.  Ketika orang sudah terlelap tidur mang Ano masih bekerja, dan pagi-pagi sampah-sampah didepan rumah sudah bersih.  Silvi pun merasa senang karena tak ada bau sampah yang lewat saat ia bermain dirumah.
Hari ini pelajaran matematika yang paling tidak disukai Silvi, ada beberapa pekerjaan rumahnya yang belum diselesaikan. Tapi seperti biasa Silvi tampak tenang, karena biasanya bu fera akan membahas satu persatu PR nya.
Setelah masuk Kelas Bu Fera menyuruh anak-anak keluarin buku PR nya, tanpa disangka Bu Fera menyuruh  satu- persatu maju ke papan tulis untuk mengerjakan PR matematika.  Seketika wajah Silvi memerah, pasti yang akan disuruh mulai dari kursi barisan depan. Dan ia belum ngerjakan semua PR nya.
“ Wajah kamu kok tegang begitu ?” Tanya Linda yang duduk di sebelah Silvi. “ Aku belum ngerjain PR nya.” Jawab Silvi singkat. “ Kenapa ?” “ Aku nggak ngerti.” “ Ya udah dari pada kamu kena marah Bu Fera, kamu kedepan pake buku PR ku saja.” “ Benar Lin ? maksih ya.” Linda mengangguk dan tak lama buku PR nya sudah berpindah tangan ke Silvi.
Tiba saatnya Silvi maju ke depan, ia ragu-ragu melangkah. Tapi diseretnya juga kedua kakinya maju kedepan. Ia menulis soal matematika, lalu menuliskan jawabannya. Soal itu tak dimengertinya, tapi ia tulis saja. “ Nah ini baru lengkap, jawabannya juga betul. Soal, rumus lalu jawabannya.” Ucap Bu Fera. “ Lanjutkan nomor berikutnya.”
“ Makasih ya kamu sudah menyelamatkan aku dari bu Fera dan teman-teman lainnya. Pasti aku diketawain teman-teman kalau mereka tahu aku nggak ngerjain PR.” Silvi menulis pada secarik kertas, lalu diberikan pada Linda. Linda membalas,   “ Iya sama-sama, tapi aku pinjamin Cuma kali ini. Besok-besok kamu harus ngerjain sendiri.” “ Oke boss!” 
  Saat pulang sekolah Silvi mengejar Linda yang sudah ada jauh didepan.” Lin, kamu kan jago matematika, bagaimana kalau kamu ngajarin aku dong. Kamu tahu sendiri kan aku sangat kurang pelajaran yang satu ini. Please kamu mau ya !” “ Iya, boleh.” Tak tega melihat sahabatnya memohon. “ Bagaimana kalau kita belajar bareng dirumah ku ?” “ Sekarang ? aku harus pulang dulu dan minta izin.” “ bagaimana kalau nanti sore ?” “ Oke.” Lalu keduanya berpisah.
Semenjak saat itu  Linda dengan telaten mengajari sahabatnya matematika, dengan caranya sendiri Linda menerangkan sehingga Silvi mudah menyerap dan mengingat yang diajarkan sahabatnya. Ia sendiri merasa heran dengan kemampuan dirinya sekarang. Awalnya nilai ulangan  matematika selalu dibawah 6 tapi sekarang dia bisa mencapai nilai 9. PR selalu dikerjakan. Dan tentu saja Silvi sangat berterimakasih pada sahabatnya itu.
“Mang Ano kemana ya? Sudah satu minggu nggak ngambil sampah.” Tanya bunda pada bibi. “kurang tahu bu.” Jawab bibi singkat. Memang sampah sudah menggunung di depan rumah.  Begitu   juga didepan rumah yang lain, baunya sudah tidak enak.  Semua warga menanyakan keberadaan mang Ano, bukan ingin tahu apa yang terjadi padanya.
Pak RT mengumpulkan warga dan mengumumkan agar sampah didepan rumah yang sudah menumpuk harus segera dibersihkan sebelum ia mendapatkan pengganti Mang Ano. Pak RT kesulitan mencari penggantinya, tak ada orang yang mau dibayar murah, apalagi kerjanya hingga tengah malam.
Sampah menjadi masalah baru dikampung ini. Tak ada juga yang tahu rumah Mang Ano, mang Ano seperti hilang ditelan bumi. 
Sepulang sekolah Silvi mengajak Linda kerumahnya. Tapi kali ini Linda menolak. “ Bapakku lagi sakit, aku disuruh langsung pulang sama ibu.” “memang bapakmu sakit apa?” “ Kata ibu sih pengaruh dari ia suka kerja malam, ibu udah berkali-kali melarang bapak agar tidak keluar malam-malam. Tapi bapak selalu memaksa, katanya demi tugas.”
“Oh, kalau begitu aku nanti kerumah mu, aku mau nanyain PR kemarin. Belum ngerti. Boleh kan ?” Linda menganggukan kepala.
Dengan sepeda mininya, Silvi menuju ke rumah Linda. Tak lupa ia bawa buah-buahan di kulkas untuk bapaknya yang sedang sakit.  Rumah Linda ada di pekampungan padat.  Sangat sederhana. Dan betapa kagetnya Silvi ternyata yang sedang terbaring lemah di rumah Linda sahabatnya adalah Mang Ano. Orang yang selama ini sangat dicari oleh semua warga.
Silvi minta maaf pada mang Ano, gara-gar ia mang Ano harus ngambil sampah malam-malam. Betapa malunya Silvi sama sahabatnya yang banyak membantu ia dalam belajar.  Silvi menelpon ayahnya, agar membawa mang Ano kerumah sakit. Ia ceritakan pada ayah dan bundanya bahwa Lindalah yang selama ini membantu ia dalam belajar matematika. Mendengar cerita Silvi ayah kagum sama Linda, jangan sampai Linda putus sekolah gara-gara tak ada biaya. Dan ayah berjanji akan membantu biaya sekolah Linda untuk meringankan mang Ano.
Dalam hati Silvi berjanji tak akan meremehkan pekerjaan seseorang.   

Minggu, 04 Mei 2014

CERNAK :Ketika hujan mengguyur bumi


Oleh
Ananda Aprilia Sholihah
Sore  ini hujan turun lagi, setelah kemarin hampir seharian mengguyur kota ini.  Sarah duduk memandangi hujan yang beraturan turun dari langit. Ada rasa cemas di wajah Sarah. Bunda yang dari tadi memperhatikan Sarah,  datang menghampiri.
“Kenapa ? bunda perhatikan kamu kamu cemas sekali.” Kata Bunda seraya mengelus rambut Sarah yang terurai.  “ Hujan  terus bun.” Sahut Sarah singkat, masih dengan wajahnya yang cemas.” Memang kenapa kalau hujan ? harusnya kita gembira kalau turun hujan, karena hujan itu membawa rizki.” “Aku takut Bun, kalau hujan tidak berhenti, rumah kita nanti banjir lagi. Seperti tahun kemarin, aku tidak sekolah, lampu mati, makanan susah.”
Ibu menghela nafas.  “Kamu perhatikan, pohon-pohon disana sangat gembira ketika hujan datang, nyanyian anak kodok ketika datang hujan, bumi yang berseri gembira  ketika hujan mulai mengguyur. Jadi tidak pantas kita membenci hujan.”  “sebenarnya bukan Sarah benci hujan bun, tapi Sarah takut kalau hujan deras seperti ini.”
Kamu lihat berita di tv daerah yang kekeringan ? itu karena hujan tak turun dalam beberapa bulan.” “ Ya Sarah juga lihat bun. Banyak juga berita kebanjiran bun.” “jadi kita berdoa aja, mudah-mudahan kita nggak kebanjiran dan kekeringan.”
“ Kan tidak cukup dengan berdoa, lalu kita tak ada usaha, begitu menurut ustad guru ngaji Sarah Bun.” “Sarah ingat nggak beberapa bulan yang lalu, semua warga desa bergotong royong  dipimpin sama pak lurah dan ketua RW masing-masing.” “ Ya Sarah ingat, tapi waktu itu Sarah lagi ada  ekss kul di sekolah, jadi nggak tahu kegiatan apa yang dilakukan.”
“oh iya, waktu itu pak lurah menganjurkan untuk buat lubang biopori dihalaman rumah masing-masing.” “Lubang biopori ? gunanya untuk apa ?” “ Lubang biopori ini untuk tempat meresapnya air hujan. Kamu tahukan kenapa terjadi banjir ?” “Karena buang sampah disungai, sehingga sungai-sungai itu meluap dan airnya tumpah ke darat.”
“ Yap, itu salah satunya,  penyebab lainnya karena tak ada tanah untuk menyerap air hujan, karena tanah dan rawa kini sudah di bangun gedung bertingkat.” “Oh jadi lubang-lubang dibelakang rumah itu untuk menyerap air hujan ?”
“Iya sekarang disetiap halaman rumah di buat lubang biopori.” “Mudah-mudahan kita tidak kebanjiran lagi ya bun.”
“Jadi Sekarang jangan  sedih lagi kalau turun hujan, sebaliknya kita harus bersyukur masih diberi rizki berupa air hujan.”
Sarah tersenyum.





Sabtu, 22 Maret 2014

MEMBUDAYAKAN PENDIDIKAN INKLUSIF



Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional telah mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia sejak usia dini. Tak terkecuali anak berkebutuhan khusus / penyandang disabilitas. Karena ABK pun memiliki harapan dan cita-cita juga masa depan.
Jangan biarkan anak-anak  yang memilki keterbelakangan mental , lebih terpuruk keadaannya dengan  tidak memperoleh pendidikan sama sekali. Sekolah akan sangat membantu mereka  dalam bersosialisasi dan untuk memperoleh stimulant-stimulan dari para guru atau mentor.  Sehingga keadaannya akan  jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan anak yang terus dikurung dirumah karena memilki cacat.
Disini peran orang tuapun sangat mendukung, keterbukaan orang tua memiliki anak berkebutuhan khusus  akan mempermudah pemerintah setempat (desa) mendata dan memberikan bantuan. Bukan sebaliknya anak berkebutuhan khusus disembunyikan karena malu. Padahal ABK pun perlu disekolahkan.
Dulu masih tahun 90 an  seorang  teman penyandang disabilitas fisik merasa kesulitan mencari sekolah yang mau menerimanya. Pasalnya tidak semua sekolah menerima siswa dengan fisik berbeda (disabilitas).  Baru setelah orang tua teman saya tersebut datang menghadap kepada kepala sekolah, dan menyakinkan kepada kepala sekolah bahwa anaknya mampu untuk bersaing dengan teman-temannya yang normal, barulah kepala sekolah SMK di Bekasi itu menerimanya. Hampir saja teman saya tersebut putus sekolah.
Berbeda dengan saya yang juga memiliki cacat fisik, tidak merasa kesulitan dalam memasuki setiap jenjang pendidkan di Bandung. Dan setiap jenjang saya bersekolah di sekolah umum.
Saya sangat berharap  kejadian yang menimpa teman saya tersebut tak terulang  di zaman sekarang ini. Saat pemerintah sudah mulai peduli terhadap penyandang disabilitas. Bahkan sekarang pemerintah melarang sekolah umum untuk menolak penyandang disabilitas. Semua anak memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Saya merasa salut kepada bupati Kuningan  H.Aang Hamid Suganda sebagai pelopor Pembudayaan Pendidikan Inklusif di Jawa Barat. Dan saat ini sedang dibangun  SLB Negeri dengan tujuan sebagai daya dukung pendidikan khusus bagi warga Jabar dan Jateng PR ( 1/9). Bahkan ada beberapa CPNS yang memenuhi syarat akademik  dari penyandang disabilitas yang diangkat menjadi PNS di kabupaten Kuningan ini.
Saya juga merasa bangga ketika membaca HU PR yang menyatakan bahwa  96 siswa disabilitas mengikuti olimpiade sains  Nasional Di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Siswa tuna netra akan berlomba dalam mata pelajaran matematika, sedangkan siswa tunarungu akan berlomba dalam mata pelajaran biologi dan fisika ( PR 1/9 ).
Para siswa disabilitas telah mampu menunjukan bahwa mereka mampu bersaing dengan teman-temannya disekolah reguler. Dalam setiap kekurangan, seseorang pasti memiliki kelebihan tersendiri.
Jika pembudayaan pendidikan inklusif ini berjalan dan sekolah mau menerima penyandang disabilitas, maka diharapkan para pengusaha maupun pemerintah membuka peluang untuk bekerja  bagi penyandang disabilitas yang seluas-luasnya, tanpa diskriminasi. Dan pada akhirnya stigma negative masyarakat dan merasa tabu bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, lambat laun akan menipis.
Masalah pendidikan tidak akan terlepas dari seorang guru, jadi mempersiapkan guru khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus memang diperlukan.  Anak-anak berkebutuhan khusus harus ditangani  guru yang berkompeten dibidangnya. Tidak semua guru bisa mengajar di SLB. Begitu juga sekolah yang inklusif  harus mempersiapkan guru yang mampu berbahasa isyarat dan mengerti huruf braile.    
Saat ini banyak sekali penyandang disabilitas yang mampu menembus batas. Seperti Angkie Yudistia seorang tunarungu yang mampu menyelesaikan S2 nya disekolah regular.  Dengan keterbatasannya ia mampu bekerja dan memiliki jabatan penting di tempat ia bekerja . Habibie Hafsyah seorang yang menggunakan kursi roda  memilki cacat sejak lahir, mampu menjadi seorang internet marketer. Dan masih banyak lagi penyandang disabilitas yang memilki prestasi dibidang akademik, olahraga maupun kewirausahaan.
Yang terpenting adalah peran orang tua yang tidak mendiskriminasi anak-anak berkebutuhan khusus dan membiarkan anaknya untuk tetap bersosialisasi dengan dunia luar. Jika anak sudah merasa diterima di dalam keluarga maka mereka akan percaya diri untuk melangkah keluar rumah.
Sangat diharapkan kabupaten-kabupaten di Jawa Barat mengikuti jejak langkah Kabupaten Kuningan yang menjadi pelopor diberlakukannya pendidikan inklusif. Sehingga Jawa Barat menjadi Provinsi pelopor  dan akan diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.
Masalah penyandang disabilitas tidak terlepas dari masalah aksesibilitas. Memang diakui di Indonesia  aksesibilitas bagi penyandang cacat masih rendah. Hal ini terbukti di fasilitas-fasilitas umum seperti di stasiun maupun di Perguruan Tinggi  ternama di Indonesiapun masih kurang aksesibilitasnya.
Sangat jauh berbeda dengan di Negara Jepang yang pemerintahnya sangat peduli dengan penyandang cacat, sehingga jalan dan fasilitas umum lainnya dilengkapi dengan aksesibilitas bagi penyandang cacat. Seperti lift dan toilet yang bisa dipergunakan untuk pemakai kursi roda., Trotoar khusus untuk penyandang tunanetra.
Memang masih banyak yang harus  dibenahi dalam masalah pendidikan Nasional ini. Namun janganlah berputus asa, teruslah bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Dan untuk mewujudkan pendidikan bagi semua (education for all) harus dilakukan upaya yang memberi kemudahan bagi ABK untuk dapat bersekolah.
dimuat di Forum guru Pikiran Rakyat Tgl 6 September 2012

Vivalog

Custom Search

banner